Monthly Archives: Agustus 2016

Konferensi Internasional 2016

Laporan Meity dan Ona

Konferensi Internasional

Federasi Kompania Santa Ursula

di Milano Juli 2016

      Tanggal 16 Juli, dua minggu sesudah Pernas di Bandung, kami, Meity dan Ona mengudara dengan pesawat Emirates menuju ke Milano dengan transit di Dubai. Perjalanan cukup lama, tapi menyenangkan. Ngeri juga terbang dalam burung logam jauh di angkasa. Tapi iman  bahwa kami ada dalam tangan Tuhan, dan didukung doa-doa anda, memberi rasa aman. Esoknya, tanggal 17 Juli kami mendarat di Milan, dijemput oleh Jangcarla, Larina, Ester dan Mamma Maria. Kami diterima dengan penuh kasih sayang di rumah mereka, membuat kami betah tinggal bersama mereka. Tiap pagi, siang dan malam Mamma Maria menyiapkan santapan yang lezat bagi kami.

Kompania Santa Ursula 2016

Selasa 19 Juli siang kami berdua bersama Mary Cabrini, Jangcarla, Marie Chantal dan beberapa Saudari lainnya berangkat dengan keretaapi ke kota Verona. Lama perjalanan 3 1/2 jam. Di Verona dijemput dengan mobil ke hotel Expo, Villa Franco untuk konferensi 5 hari sampai tgl 25 Juli. Jam 19.00 Konferensi dibuka dengan Perayaan Ekaristi meriah dipersembahkan oleh Mgr. Adriano Tessarall0 bersama 4 imam konselebran. Yang hadir sekitar 160 orang dari berbagai negara. Ekaristi dilanjutkan dengan santap malam bersama lalu istirahat. Memang hari sudah cukup malam.

Hari Rabu diawali dengan Perayaan Ekaristi lalu sarapan. Jam 09.30 kami berkumpul untuk kata sambutan Maria Razza, Presiden Federasi, dilanjutkan dengan sesi pertama Mgr. Adriano Tessarallo yang membawakan tema: “Sekularitas yang dibaktikan dengan tinggal di dunia. Gereja yang berbicara kepada dunia.” Mgr. menjelaskan bahwa seorang sekulir bukan hanya tinggal di dunia, tapi juga mengambil bagian dalam kehidupan Gereja. Baginya dunia menjadi  lahan Misi, tanpa membiarkan diri hanyut di dalamnya. Semangat Sekulir harus meneladani semangat Yesus dari Nasaret yang telah berinkarnasi menjadi manusia yang lemah. Selama masa kanak-kanak dan remaja-Nya. Ia bekerja di rumah dan di tempat kerja Yusuf, ayahnya. Yesus juga belajar hidup di dunia bersama para pekerja sambil mendengarkan aspirasi dan kebutuhan mereka. Ada lima cara berbicara dengan dunia: Keluar menemui orang-orang, mewartakan, tinggal bersama mereka, mendidik, merubah.

Sesudah ceramah ada kesempatan tanya jawab.

Sesi kedua jam 16.00: “Menyelam ke dunia dengan menghayati rahmat baptis di zaman ini” dibawakan oleh Assunta Steccanella. Beliau menguraikan bagaimana hidup orang kristiani sejati di dunia ini yang dibekali rahmat baptis. Sesudah Ibadat Sore dan santap malam kami jalan-jalan dengan bis melihat kota Verona di waktu malam. Bis juga mengantar kami ke gedung kesenian yang ramai. Gedung itu terkenal karena pentas drama  “Romeo & Juliette”.

Hari Kamis sesudah Perayaan Ekaristi dan sarapan kami masuk ke dalam Sesi ketiga: “Kesaksian wanita yang dibaktikan di dunia” disampaikan oleh Giusy Pelucchi. Sesi berikut oleh Kate Dalmasso: “Angela Merici, hidupnya di dunia”. Kate mengajak kami kembali ke akar pemikiran S. Angela dan sukacita mengikuti Regula: “Dalam kehidupan Ibu Pendiri, Regula, Nasihat dan Warisan … kita menemukan panduan dasar hidup kita dan jalan untuk mencapai tujuan Tarekat: Mengusahakan kasih yang sempurna, memuliakan Yesus Kristus, melayani Allah dan Kerajaan-Nya, dan bekerjasama bagi keselamatan dunia.” (Konst 1.5)  S. Angela telah mewariskan kepada kita hal-hal yang praktis dan umum dari pengalaman hidupnya sendiri yang ia jalani dari desa ke kota dan ke banyak tempat lainnya: Desenzano, le Grezze, Salo, Brescia, Yerusalem, Venesia, Roma, Varolla, Mantowa, Cremona. Semua perjalanan itu ditempuhnya di abad ke 15! Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki atau dengan kapal laut. Dengan mengikuti teladan Bunda, kita pun rela meninggalkan rumah untuk menemui saudari-saudari kita, menempuh perjalanan jauh untuk saling bertemu guna membangun kekuatan dengan membentuk komunitas, dll.   Sesudahnya kesempatan tanya jawab.

Sorenya ada pertemuan Meja Bundar. Mary Cabrini, Marie Bernadette, Silvia, Maria Pia dan Ileana membagikan pengalaman hidup mereka. Di sini pun diberi waktu untuk tanya jawab.

Jumat 22 Juli acara jalan-jalan ke kota Venesia dan sekitarnya. Kota itu sangat indah dikelilingi sungai. Untuk sampai ke tempat-tempat di kota itu harus dengan kapal atau perahu. Tapi airnya tidak kotor dan bau seperti di Jakarta. Kami naik kapal mengunjungi Katedal San Marco, museum dan gereja-gereja di sekitar kota itu. Sungguh pengalaman luar biasa melihat kota seindah itu dengan air di mana-mana. Juga ada rasa bahagia bisa berziarah ke tempat-tempat yang penuh sejarah dalam Gereja Katolik.

Sabtu 23 Juli pagi penutupan Konferensi dengan perayaan Ekaristi. Sesudah sarapan, kami berpamitan untuk pulang dan melanjutkan misi masing-masing di tempatnya. Bagi Meity masih ada acara Rapat Dewan Federasi yang diadakan pagi itu bersama Mgr Adriano. Yang dibahas adalah hal-hal yang terjadi dalam Kompania, laporan dari masing-masing anggota, rencana pertemuan 3 bulanan. Khususnya tgl 25 November pada peringatan hari lahirnya Kompania, diharapkan agar setiap Kompania merayakannya dengan penuh sukacita. Setiap anggota Kompania diimbau untuk merefleksikan hidup panggilannya di tengah kesibukannya sehari-hari, apakah kita sudah meneladani Bunda Angela di tempat kita berada. Dianjurkan supaya mengadakan pertemuan dari 25 sampai 27 November, supaya kita lebih dekat dan akrab dengan saudari-saudari sekomunitas. Rapat ditutup jam 15.00.

DSC_0734.JPG

Sekarang tiba saatnya Ona dan Meity dengan satu rombongan kecil menjalani acara kedua yaitu ziarah ke tempat-tempat di mana Bunda Angela pernah tinggal. Tempat pertama yang kami tuju adalah Desenzano, tempat kelahiran Bunda. Beruntung kami boleh ikut mobil Maria Razza. Beliau ikut ke Dezansano untuk satu malam saja. Mary Cabrini dan Marie Chantal naik kereta api karena jalanan macet,  dan kami bisa bergabung di Desenzano.

Minggu 24 Juli: Ziarah kami dimulai dari Desenzano. Masih ada rumah di mana Angela lahir yang terpelihara dengan baik sekali. Duplikatnya ada di Supratman 1 Bandung. Kami lanjutkan perjalanan ke Salo, ke rumah paman Angela di mana ia ditampung setelah kehi-langan orangtuanya. Perjalanan cukup jauh, sebagian menyusuri pantai Danau Garda. Pemandangan sangat indah. Walaupun jauh, kami nyaman dalam kendaraan. Terbayang betapa sulitnya perjalanan itu di zaman Angela dengan kereta kuda melalui jalan-jalan yang buruk.  Kita ingat kata-kata Bunda:

“Semua pedih dan sedih akan berubah menjadi sukacita dan kegembiraan. Kita akan mendapatkan bahwa jalan-jalan yang berduri dan berbatu akan bertabur bunga bagi kita.”

(Pr R, 27)

Itulah pengalaman Bunda kita sendiri. Dengan itu Bunda mengajak kita putri-putrinya yang mengarungi hidup ini dengan susah payah untuk  tetap melihat ke depan sampai ke tujuan yang membahagiakan.

Esoknya perjalanan dilanjutkan ke gereja S. Agata di Brescia di mana St Angela tinggal di tahun-tahun terakhir hidupnya, mengikuti Ekaristi setiap hari dan menerima tamu-tamunya. Bunda juga sangat mengagumi S. Agatha yang banyak memotivasi hidupnya. Itulah sebabnya Bunda mengingatkan putri-putrinya supaya selalu kembali ke kaki Yesus bila mengalami berbagai kesulitan. Di sini juga disimpan jasad S. Angela dalam sebuah peti kaca. Di gereja ini juga masih tersimpan tulang belulang para martir di dalam sumur bawah tanah.

Kami juga mengunjungi Katedral dan Gereja di mana terdapat patung S Angela yang besar megah. Patung itu punya dua sisi wajah yang berbeda megambarkan pribadi S. Angela. Di satu sisi wajahnya lembut sebagai ibu yang penuh kasih. Sisi yang lain menggambarkan Angela sebagai wanita yang tegar dan bekerja keras.

Kami sangat senang dan bersyukur boleh berziarah ke tempat-tempat bersejarah itu. Tiba saatnya meninggalkan semua itu untuk menyimpannya dalam hati sebagai kenangan berharga. Kami naik bis dilanjutkan dengan kereta api sampai ke Milano. Akhirnya, Jumat 29  Juli rumah singgah di Milano pun harus kami tinggalkan untuk pulang ke Jakarta, dan Ona lanjut ke Kupang.

Kami sangat berterima kasih kepada Maria Razza, Mary Cabrini, para Dewan Federasi serta Mgr. Adriano Tessarallo yang banyak memberi dukungan untuk Indonesia. Terima kasih Mamma Maria, Ester, Jangcarla, Marie Chantal, Larina, dan Theresia yang telah bersama kami napak tilas di Brescia dan sekitar. Khususnya terima kasih kepada saudari-saudari US yang telah menampung kami di Milano.

Terima kasih pula kepada Sr. Emma, Lydia dan teman-teman US Indonesia yang menyertai perjalanan kami dengan doa-doa mereka. Yakinlah bahwa kami tidak lupa mendoakan anda dalam ziarah itu. Semoga pengalaman indah itu mengobarkan kecintaan kami kepada Yesus Kekasih kita dan Bunda Angela serta Kompania, dan kobaran cinta itu dapat kami tularkan kepada Kompania Indonesia.

Semoga Tuhan memberkati kita sekalian dengan segala kelimpahan.

Salam kasih dari kami berdua,

     Meity dan  Ona.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan