Monthly Archives: September 2013

Laporan Perjalanan Meity Wijaya ke Milan 28 Juli –2 Agustus 2013

Pertemuan  Internasional di San Marino,

Wanita yang dibaktikan sebagai Sekulir

Untuk pertama kalinya saya berangkat sendirian dari Jakarta ke Milan. perjalanan  selama kurang lebih 15 jam terasa sangat menyenangkan.

Di Airport Milan saya dijemput oleh  Maria Razza, Presiden Ferderasi yang sudah menunggu di pintu kedatangan. Wah, senang sekali setelah perjalanan yang sangat  jauh dan satu tahun tak bertemu, akhirnya bisa jumpa kembali.

Dari Airport ke Casa Betania naik taksi  selama hampir tiga perempat jam. Kami disambut hangat seperti keluarga yang baru pulang setelah perjalan-an jauh. Ada suasana senang dan gembira.  Saya tinggal di sana sambil menunggu Francis  dari  USA,  yang tiba 28 Augustus.

Kami berenam naik kereta kurang lebih 3,5 jam menuju stasiun Remini terus dijemput dengan mobil ke tempat pertemuan di  Hotel S. Giuseppe di San Marino. Tempatnya indah sekali, nyaman dan tenang dikelilingi bukit-bukit. Foto ini diambil di gereja San Marino

San MarinoAcara diawali dengan Perayaan Ekaristi jam 19.00. Setelah itu makan malam bersama sekitar 120 orang.  Hadir pula Bapa Uskup Adriano  Tessarollo dan 5 orang Pastor.  Para Sekulir di sana mendapat perhatian besar dari para pendamping rohani.

Selama 6 hari saya bergabung dengan saudari dari berbagai negara: Afrika, USA, Perancis, dan berbagai tempat di Italia, a.l. Roma, Trento,  Milan, Bologna.  Session demi session dilewati dengan baik dengan penuh kasih persaudaraan yang berbuah keserasian.

Hari kedua diisi oleh Uskup Adriano Tessarollo. Tema pertama: “Lima puluh tahun sesudah Konsili Vatikan II: Bagaimana kehadiran kaum awam di dunia?” Tema kedua:  “Partisipasi  dalam kehidupan Gereja.”

Hari ketiga diisi oleh seorang wartawati profesional  Marisa Sfondrini yang membawakan tema ketiga dan keempat: “Awam yang dibaktikan: Apakah baptisan saja tidak cukup?” dan “Awam yang dibaktikan: Sungguhkah ‘Laboratorium’ yang diimpikan oleh Paulus VI?”

Pada hari keempat Pastor Don Massimo Naro  membawakan tema kelima: “Awam yang setia pada Kristus: Jembatan antara Gereja dan dunia.” Siangnya kami berziarah ke Loreto dan merayakan Ekaristi di sana.

Meity and CabriniPada hari kelima setelah doa pagi, Perayaan Ekaristi dan makan pagi, kami berpisah dari saudari-saudari yang  akan pulang ke tempat masing-masing. Hari keenam kami Dewan Federasi masih mengadakan pertemuan untuk membahas persoalan yang ada di setiap Kompania. Indonesia diharapkan terus berkembang, a.l. dengan belajar bahasa Itali agar dapat lebih lancar berkomunikasi selain dengan bahasa Inggris. Di sini saya berfoto dengan Mary Cabrini, seorang anggota Dewan yang tinggal di Amerika.

Tgl. 2 Agustus kami anggota dewan meninggalkan San Marino untuk pulang ke tempat masing-masing. Rasanya waktu yang dilalui dalam kegembiraan bersama itu sangat singkat dan suasana mulai menjadi sepi.

Saya kembali ke Casa Betania. Di rumah itu ada beberapa saudari sekulir yang hidup bersama. Ada Maria yang sangat setia menyiapkan makan untuk kami semua. Saya memanggilnya ‘Mama Maria’. Ada Ester dan Carla, Rina dan Virgina. Dua terakhir ini sudah sepuh dan sakit-sakitan namun mereka masih rajin membuat pekerjaan tangan seperti taplak meja dan merajut. Kadang saya goreng krupuk. Mereka semua suka karena rasanya enak banget. Mereka pesan kalau ke sana lagi jangan lupa krupuknya he….e…

Selama tiga hari di Casa Betania saya merasa seperti di rumah sendiri. Waktu siang atau menjelang makan malam kami nonton berita di TV. Untung sekali waktu itu bisa mengikuti acara perjalanan Paus Fransiskus ke Brasil. Sangat bagus dan menarik. Suasana jadi ramai kalau nonton kwis. Sesudah makan saya bantu cuci piring dan membersihkan ruang makan, pokoknya kayak di rumah sendiri.

Akhirnya tiba saatnya untuk pulang ke Jakarta. Ester dipesan oleh Maria Razza untuk mengantar saya sampai di airport. Ester tidak mengizinkan saya jalan sendirian. Selagi antri untuk check in ia pergi mencari es krim. Jadi sambil antri makan es.  Asyik juga karena di sana panas banget.

Saking semangatnya mau pulang ke tanah air saya sampai lupa minum.  Sayang tidak boleh bawa air ke dalam, jadi saya puasa minum.  Padahal antri masuk ke pesawat panjang sekali seperti ular, terus jalan ke dalam jauhnya bukan main sampai hampir ke landasan pesawat.

Demikianlah kisah perjalanan saya. Di mana saja saya bertemu dengan orang yang baik hati, baik itu saudara kita para sekulir, maupun orang-orang di pesawat. Puji syukur pada Amatore yang selalu setia mendampingi selama perjalanan ini. Terima kasih juga kepada semua orang yang telah mendoakan kami. Salam kasih dari semua anggota Ursulin Sekulir Internasional, khususnya untuk Sr. Emma.