Kemandirian

Persis seperti waktu Mamah masih hidup.

Perhatian dan perlindungan yang sebenarnya harus kusyukuri malah membuatku marah-marah menggelegar.
Entah apa sebabnya aku berlaku demikian …
Jangan-jangan aku cuma mengikuti nafsuku saja.

Aku mencoba merenungkan, sebenarnya apakah akar permasalahannya ?

Egoku terlalu besar untuk mengakui bahwa aku butuh pertolongan.

“Kemandirian” yang kudapat dengan tahun-tahun latihan fisik berpeluh pada akhirnya harus kulepaskan juga. Mungkin, aku belum sepenuhnya rela. Aku belum damai.

“Kemandirian”-ku bagaikan duri. Aku begitu ingin mandiri. Bebas pergi kemana saja tanpa harus diantar kesana-kemari. Tetapi aku juga harus realistis. Jalanku terkadang tidak stabil, dan orang lain saja bisa melihatnya.

Seharusnya aku bisa menerima salibku dengan tenang dan berterima-kasih atas kebaikan adik-adik yang bersedia mengantarku kesana kemari. Sebenarnya banyak pula perjalanan yang seharusnya tidak perlu kutempuh. Tetapi seringkali aku sulit mengatakan “tidak” karena hal ini akan sama maknanya dengan mengatakan, “sorry euy.. gua lagi cape engga sanggup kesana”… 20 tahun lamanya kata itu tidak ada dalam kamusku.

Sudah saatnya bagiku untuk berubah… karena kemandirian tidak sepenting kekudusan. Aku masih malu-malu untuk mengatakan, bahwa cita-citaku yang baru adalah menjadi kudus. Rasanya seolah kurang cool… kurang bergengsi… kurang trendy.

Jauh di lubuk hatiku aku tahu itulah cita-cita baruku: menjadi kudus. Memenuhi keinginan Kekasih-ku yang ingin agar aku menjadi kudus agar kelak bisa bersama-Nya selamanya. Tapi aku masih jauh sekali rasanya. Mungkin, langkah pertama yang harus kubat adalah berdamai dengan diri sendiri.

Lingkaran Advent 2 - by Maria & AileenAku percaya, masa Advent ini adalah masa yang penuh berkat. Dapatlah aku mohon pula rahmat untuk lebih bermurah hati terhadap tubuhku sendiri. Masih sulit untuk jujur dengan diriku sendiri. Bahkan saat ini pun aku tidak tahu apakah yang kutuliskan ini sungguh keluar secara jujur atau tidak… karena masih ada perasaan penolakan yang kuat atas refleksiku ini.

Hari ini 8 Des, Pesta Perawan Maria yang dikandung tanpa noda.

Bunda Maria yang baik, engkau mengenal hatiku.
Doakanlah aku agar senantiasa taat dan setia pada Putera-Mu.

Yesus, Amatore, usirlah kegelapan dalam hatiku dan curahkanlah Rahmat-Mu.

Bandung, 8 Des 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s