Monthly Archives: November 2012

HUT Kompania Santa Ursula

HIDUP BARU

Surat Edaran Kompania Santa Ursula Brescia-Indonesia

Institut Sekulir Santa Angela Merici

Supratman 1, Bandung 40114, tilp 022-7207332

https://ursulinsekulir.wordpress.com

http://angelasanta.wordpress.com

November 2012

Bersama-sama Melayani Kerajaan Allah sebagai Sekulir

Dirgahayu Kompania Santa Ursula

1535 – 25 November – 2012

Perayaan HUT mengajak kita menengok kembali ke masa silam dengan penuh syukur, menatap ke depan dengan penuh harapan dan menghayati saat kini dengan penuh keyakinan dan keberanian seperti diajarkan Santa Angela. Bunda kita. “Pujilah Tuhan, hai jiwaku, jangan lupakan segala kebaikan-Nya.” (Mzm 103:2)

Tak terhitung banyaknya kebaikan Tuhan kepada Kompania selama 477 tahun. Kompania Indonesia sudah berdiri 24 tahun, dan sudah berapa lamakah anda masing-masing bergabung dengan Kompania? Betapa kita tidak bersyukur, sebab “Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia.” (Yoh 1:16).

Jalan yang kita lalui bukan jalan yang lebar dan lurus, melainkan berliku-liku, naik turun lewat jurang dan bukit, penuh lubang… Tapi kita menjalaninya bersama Amatore kekasih kita, Maka sampailah kita di saat kini, dan kita dihadapkan pada banyak pilihan lagi. Setelah mengalami kebaikan Tuhan di tahun-tahun yang silam, bagaimana kita akan menghayati saat kini dan dan hari esok?

Mgr. Charles Bo, Uskup Agung Yangon Myanmar, menceritakan dongeng ini dalam Workshop CBFSEA bulan Agustus lalu:

Ada seorang raja yang memerintah dengan baik dan bijak. Ia sangat dicintai rakyatnya. Suatu hari ia memutuskan untuk mencari Tuhan dalam doa dan tapa di sebuah biara di negeri yang jauh Selama kepergiannya, ia akan menyerahkan pemerintahan kepada keempat putrinya. “Jangan pergi, Ayah! Kami tidak bisa memerintah tanpa Ayah!” Raja tersenyum. “Aku akan memberimu hadiah. Mudah-mudahan kamu bisa belajar dari situ bagaimana memerintah dengan baik.” Raja memberi masing-masing putrinya sebutir padi. Lalu berangkatlah ia.

Putri yang sulung berpikir butir padi itu pasti sangat berharga. Maka ia mengikatnya dengan benang emas lalu memasukkannya ke dalam kotak kristal. Setiap hari ia memandanginya. Putri yang kedua menyimpan butir padi itu dalam sebuah kotak kayu dan meletakkannya di tempat yang paling aman, yaitu di kolong tempat tidur. Putri yang ketiga memandangi butir padi itu. “Ah,” pikirnya, “apa bedanya dengan butir padi lain?!” Maka ia membuangnya.

Putri bungsu terus merenungkan butir padi itu. Mengapa ayah memberi sebutir padi, dan bukan hal lain? Ia terus merenungkannya sampai berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Akhirnya ia menemukannya!

Tahun berganti tahun dan akhirnya raja kembali. Jenggotnya sudah tumbuh lebat. Matanya berbinar-binar karena telah menemukan Tuhan. Putri-putrinya menyambut ayah mereka dengan sangat gembira. Putri sulung bergegas ke kamarnya dan kembali dengan kotak kristal. “Ayah, ini hadiah dari ayah. Saya mengikatnya dengan benang emas dan setiap hari memandangnya.” Raja tersenyum. “Bagus, terimakasih.”

Putri yang kedua menyerahkan butir padi yang disimpan dalam kotak kayu. “Ayah, saya menyimpannya di tempat yang paling aman. Ini dia.” Raja tersenyum pula. “Terimakasih.” Putri yang ketiga lari ke dapur mencari sebutir padi. Lalu ia menyerahkannya kepada raja yang juga menerimanya dengan senyum.

Sekarang giliran putri bungsu. “Ayah, lama sekali saya merenungkan arti butir padi yang ayah hadiahkan. Setelah berbulan-bulan saya baru mengerti bahwa itu adalah sebuah benih. Saya menanamnya di tanah. Ia tumbuh dan menghasilkan banyak butir lain. Semuanya saya tanam pula, dan hasilnya saya tanam lagi. Begitu seterusnya. Ayah, sekarang coba lihat.” Ia membuka jendela lebar-lebar. Dari situ tampaklah sawah terbentang sejauh mata memandang. Padinya menguning, cukup untuk memberi makan seluruh rakyat. Raja terharu. Ia berdiri di depan putri bungsu, mengambil mahkota dari kepalanya dan menempatkannya di kepala si bungsu. “Engkau putriku, pantas menjadi ratu. Engkau mengerti apa artinya memerintah.” Putri bungsu menjadi penguasa yang baik dan bijak. Rakyat sejahtera dan sangat mencintai ratu mereka.

Untuk Refleksi

Kita masing-masing telah menerima hadiah “sebutir padi”. Apakah itu? Imanku, panggilanku….? Apa yang saya buat dengan butir padi itu? Kalau saya bercermin pada keempat putri raja, saya mirip yang mana? Bagaimana sekarang dan selanjutnya?

Iklan

Anak Panah

Refleksi: Anak Panah

Di saat saya mencari gambar Santa Ursula saya menemukan gambar yang satu ini.

Santa Ursula adalah seorang perawan, martir, yang mati mempertahankan imannya.

Dalam gambar ini ia dilukiskan sedang memegang anak panah. Mungkin maksudnya anak panah yang ditujukan padanya, namun saat ini saya memandangnya dari sisi yang lain…

Ketika beberapa bulan yang lalu aku dinasehati untuk membatasi jalanku, dan baru-baru ini: “kurangi bicara”, aku disadarkan kembali kalau semua yang kumiliki secara fisik tidak abadi. Aku tidak pernah tahu berapa banyak langkah yang masih aku punya, berapa banyak kata yang masih bisa kuucapkan.

Kurenungkan apa yang telah kulakukan dengan langkah-ku, kemana saja aku pergi, untuk siapa kulakukan semuanya itu. Banyak kesia-siaan yang kulakukan, banyak langkah terbuang cuma untuk membuktikan kemandirianku dan hal-hal sia-sia lainnya.

Kurenungkan juga kata-kataku, berapa banyak kata yang kuucapkan hanya dalam upaya menguasai hidup orang lain, adik-adikku, kawan-kawan terdekatku… berapa banyak kata-kataku yang melukai teman-temanku, dalam upaya menunjukkan bahwa aku bisa punya kendali atas emosi mereka, dibandingkan kata-kata penghiburan yang keluar dari mulutku.

Memang tak ada yang tahu berapa lama seorang akan hidup…
Namun Gambar Santa Ursula ini mengingatkanku bahwa bukan sekedar ‘sisa hidup’ yang penting. Bagiku kata dan langkah ibarat tumpukan anak panah yang kubawa dalam hidupku. Aku tidak pernah akan tahu ada berapa banyak ‘anak panah’ yang tersisa.

Sepanjang hidupku ini, sudah terlalu banyak anak panah yang terbuang.
Aku ingin agar mulai saat ini anak panah yang tersisa ini tidak ada yang terbuang sia-sia lagi. Maka aku berdoa dan berusaha, supaya langkah-langkah dan kata-kata yang masih tersedia dalam hidupku bisa sungguh digunakan untuk menguduskan diriku dan sesamaku.

Santa Ursula, doakanlah kami.

Lyd, KSU