Monthly Archives: September 2012

Musyawarah Federasi

Roma, 21-25 Juli 2012

Tahun ini Mia dan Meity menghadiri Musyawarah Federasi bersama Sr. Emma. Berangkat dengan Qatar Airlines berangkat tengah malam jam 00.10. Tiba di Doha jam 5.25 pagi. Doha adalah ibukota Qatar, sebuah negara kecil di semenanjung Arab. Penduduknya tidak ada 2 juta tapi merupakan negara terkaya di dunia dilihat dari pendapatan per kapita. Bandaranya termasuk salah satu yang terbaik di dunia. Segala fasilitas tersedia. Kami harus menunggu 8 jam sebelum meneruskan perjalanan jam 13.35. Untung ada AC. Di luar, sebelum matahari terbit panasnya 35 derajat Celsius, dan siangnya seperti di oven. Menunggu 8 jam tidak membosankan. Apalagi kami juga diberi makan siang gratis. Tiba di Roma jam 18.35. Masih terang sebab matahari baru terbenam jam 8.30 malam. Kasian yang berpuasa, karena tunggu lama sekali untuk buka puasa! Kami cari shuttle semacam travel yang sudah dipesan, tapi tidak ketemu. Akhirnya naik bis airport sampai ke terminal Roma. Baru di sana naik taksi ke Generalat Ursulin. Banyak Suster sedang pergi libur, cuma ada beberapa di rumah. Kami disambut hangat oleh Sr. Martini dari Indonesia yang sedang bertugas di sana.

Esoknya kami ke Vatikan. Paus sedang berlibur di Castel Gondolfo, jadi tidak bisa bertemu beliau. Ada antrian yang panjang sekali untuk masuk Basilika St. Petrus dengan turis dari manca negara. Kami melihat seorang Suster dari Papua yang antri agak di depan. Kami lari menemui dia, seolah kami dari rombongannya. Itu namanya solidaritas orang Indonesia! Habis berdoa di dalam basilika, kami cari oleh-oleh. Besoknya jam 8 kami naik keretaapi ke Brescia via Milano. Keretaapi cepat, bersih dan nyaman. Tiba di Wisma S. Angela tempat kami menginap, Edvige Filipa anggota US Brescia sudah menunggu. Sesaat kemudian datanglah Domenico, mitra US Brescia. Kami bersama berkunjung ke makam Elisa Tarolli yang membentuk Kompania Indonesia.

Dari sana kami bergegas ke Gereja tempat jenazah Bunda Angela disemayamkan. Petugas membawa kami keliling. Esoknya ke Desenzano dengan Domenico, Santina istrinya dan Giovanni putra mereka. Mereka membawa 2 mobil, sopirnya Domenico dan Giovanni. Mary Cabrini dari USA dan Therese dari Canada ikut. Kami mengunjungi tempat kelahiran Bunda Angela, dan rumah di mana ia dibesarkan. Juga Gereja S. Angela yang modern. Sayang cuma ngintip dari luar karena petugasnya sedang libur. Di tempat-tempat bersejarah itu kami ingat dan mendoakan Kompania di Indonesia, semoga semakin kudus seperti layaknya mempelai Putra Allah yang Tertinggi. Domenico sekeluarga sangat baik dan murah hati. Mereka tidak hanya menyediakan kendaraan, tapi juga membayar makanan dan penginapan kami selama dua hari di Brescia. Tolong doakan keluarga ini, sebab sesudah keberangkatan kami, Santina dinyatakan menderita kanker.

Kami kembali ke Roma dan menyiapkan diri untuk pertemuan Musyawarah yang diadakan di Salesianum, sebuah tempat pertemuan besar milik Pater-pater Don Bosco. Letaknya di luar kota Roma, tapi mudah dicapai dengan 3 bis sambung menyambung. Gedungnya sangat indah dengan segala fasilitas yang perlu. Peserta Musyawarah ada 100 lebih danri berbagai negara. Kebanyakan wajah putih dari Eropa dan Amerika. Lalu ada lumayan banyak wajah hitam dari berbagai negara Afrika, dan hanya kami bertiga punya wajah Asia kuning-coklat.

Ya, kami merayakan persatuan dalam keanekaan kami. Yang mempersatukan kita adalah Yesus Kristus, kekasih kita bersama. Di antara kaum Hawa pengikut  S. Angela, ada be-berapa kaum Adam: Uskup dan imam, asisten Gerejani Federasi dan Kompania-kompania di Italia. Kata Mia, “Kapan ya kita punya asisten Gerejani yang bisa ikut pertemuan kita?

Mungkin 80% berbahasa Italia. Sebagian kecil berbahasa Perancis dan Inggris. Rasanya bloon banget kalau tidak ngerti bhs Italia. Timbul lagi hasrat untuk belajar. Untung ada Doris yang memandu kami. Untuk ceramah dan hal-hal resmi ada terjemahan simultan. Peserta yang tidak berbahasa Italia memasang tilpon kepala dan memilih bahasa Perancis atau Inggris. Penerjemah duduk di ruangan kecil mirip lemari, dan apa yang dia dengar dalam bahasa Italia, langsung ia terjemahkan ke dalam bahasa Perancis atau Inggris. Walaupun berbeda bangsa dan negara, kami merasa ada persaudaraan dan persatuan dalam kasih pada semua peserta, yang bersumber pada kasih Amatore dan Bunda Angela. Musyawarah dibuka dengan Ekaristi meriah 21 Juli sore. Besoknya setelah sambutan Maria Razza, ada ceramah dari Dr. Daniela Leggio dari Kongregasi Suci untuk hidup bakti (dari Vatikan). Beliau membawakan “Nilai-nilai Kehidupan Sekulir”. Seorang Sekulir yang hidup di tengah masyarakat, dipanggil untuk menjadi kudus dan menguduskan dunia sekitarnya. Sorenya Maria Razza membawakan Laporan Enam Tahun dari masa jabatannya. Malam itu ada presentasi dari berbagai Kompania di dunia. Kita sudah menyiapkan presentasi tentang Kompania Indonesia dengan power-point dan Mia memberi penjelasan, Doris menerjemahkan ke dalam bahasa Italia. Tg 23 Juli kerja kelompok untuk memberi tanggapan atas laporan dan membuat usul dan saran yang kemudian diajukan kepada sidang untuk disahkan. 24 Juli adalah hari pemilihan. Maria Razza terpilih menjadi Ketua Federasi untuk masa jabatan kedua, dan Kate menjadi asistennya. Lalu dipilih 11 anggota Dewan, di antaranya Mary Cabrini dari USA dan Meity. Yang lain dari Italia dan negara berdekatan. Bagi Mary dan Meity ditetapkan bahwa mereka dilibatkan dalam rapat Dewan 4 x setahun; yang 3 x lewat skype, yaitu tilpon yang dihubungkan dengan computer dan kelihatan wajahnya serta terdengar suaranya. Lalu sekali setahun mereka harus hadir. Kehadiran Kompania Indonesia dalam Dewan Pusat merupa-kan kehormatan tapi juga tanggung jawab besar. Perlu menguasai bahasanya dan mempunyai hati besar yang mencakup semua Kompania di seluruh dunia. Juga hati yang peka yang mampu menangkap sinyal-sinyal dari Tuhan tentang keinginannya bagi Federasi ini. Besoknya Ekaristi penutup dipimpin oleh Kardinal Joao Braz de Aviz, juga dari Kongregasi Suci untuk hidup Bakti di Vatikan. Sesudah itu kami pulang ke Generalat Ursulin dan besoknya terbang ke tanah air.

Iklan

Kunjungan Kelompok Jakarta

Dalam rangka merayakan Ulang Tahun Sr. Emma ke-75 dan menengok  saudari-saudari di Bandung, kelompok Jakarta berkunjung ke Bandung. Engie datang bersama Loren, lalu dijemput oleh Meity yang datang naik travel lain.

Walaupun sudah direncanakan, sayang sekali Lilyana sakit jadi tidak bisa datang, dan Mia menunggui saudaranya yang sakit. Sekarang sudah membaik, semoga lekas sembuh dan sehat selalu.

Acaranya santai.. ngopi bareng sambil ngobrol dan makan kue ulang tahun Sr. Emma. Lalu bersama-sama kami melintasi kebun biara menuju Anggrek. Puji Tuhan! Lyd oleh dituntun Sr. Emma sehingga bisa melintasi jalan-jalan pintas yang terlindung tanaman, tidak harus berputar-putar mengikuti setapak.

Lyd bilang… itulah baiknya ketaatan pada pembimbing rohani, ikut jalan yang sudah lebih dahulu dilewati. Irit waktu, irit tenaga dan tidak kepanasan…

Dari Biara Anggrek sebagian dari kami naik becak sepanjang Jl. Anggrek. Suasananya teduh, tanaman rindang serasa memasuki ‘terowongan’ hijau pepohonan. Kami berbelok di taman kota yang besar yang dikenal dengan nama “taman pramuka”. Eny dan Meity memilih berjalan kaki, mungkin sambil ‘rapat’ dewan..

Acara dilanjutkan dengan doa bersama dan makan siang.

Terima kasih Kelompok Jakarta…

Selamat Ulang Tahun Sr. Emma sayang! Tuhan berkati selalu.

Makan yang banyak ya Suster…
ini pesanannya, ada ceri merah-nya.

Horee! Habis semua satu porsi 🙂

Kebersamaan yang indah.

Lain kali kumpul lagi ya…. siapa mau bergabung 🙂 ?

Selamat menjalani Spiritualitas Santa Angela dengan hati gembira!

Selamat bahagia Ulang Tahun

Yustina Susilo 4 September

tidak bisa hadir Pernas karena terserang demam berdarah. Untung sekarang sudah sehat kembali dan melakukan tugasnya di sekolah.

Semoga di hari-hari ini sempat berkunjung ke Malang untuk menimba ilmu US terakhir yang ditimba di Bandung bulan Juli yl.

Maaf ucapannya terlambat. Semoga setiap hari merupakan perayaan bagi Yustine adik bungsu kita, dan semoga banyak adik-adik yang menyusul.

Sr. Emmanuel Gunanto, 15 September

Selamat Ulang Tahun Sr. Emma!

* Stt.. Buat kawan-kawan yang belum tahu, Sr. Emma bikin buku dan blog, judulnya “Sukacita di Hari Tua”. Coba intip disini: http://emmanuelgunanto.wordpress.com

Mari rayakan hidup penuh sukacita!

Kristina Mujilah di Malang, 15 Oktober

Masih lama, ya Mbak Tina, takut terlambat. Soalnya belakangan ini HB datangnya suka ngaret.

Kami bahagia dan bersyukur pada hari ini karena Tuhan telah menciptakan Mbak Tina begitu unik dan lucu. Di mana kami kumpul, kalau ada Mbak Tina pasti meriah deh. Tetap sehat selalu, banyak ketawa, menggembirakan banyak orang supaya bisa melayani Tuhan kita dengan penuh sukacita.

Doa mohon kemajuan dalam hidup rohani

Surat dari Jasintha di Waibalun:

Ka Meity dan teman-temanku yang terkasih,

Doa dari ibu Kate ini, memberi kekuatan dan kesegaran rohani yang luar biasa, Kalo didoakan setiap hari. Saya mengalaminya. Mari kita bersama-sama mendaraskan doa ini dalam perjalanan hidup rohani kita menuju puncak pemurnian nanti. Kita satu dalam doa.

Jasintha Hadjon

Yesus, satu-satunya jalan ke surga,

tolonglah aku merangkul dan menginginkan segala cara dan sarana untuk setia sampai akhir.

Tuhan Yesus, satu-satunya jalan ke surga,

Tolonglah aku merangkul puasa sebagai hal yang perlu, sebagai sarana dan cara untuk maju dan memperoleh kekayaan rohani. Kuasailah kejahatanku, angkatlah budiku, berilah aku kebajikan dan ganjarannya.

Tuhan Yesus, satu-satunya jalan ke surga,

Tolonglah aku percaya akan kebangkitan-Mu Tapi tolonglah aku memahami bahwa kebangkitan didahului kehidupan yang diambil dan diberikan, didahului penyaliban dan kematian. Di sini dan sekarang aku ingin lebih memperhatikan doaku, disertai puasa, dan dengan demikian aku mau menempatkan seluruh harapan dan kasihku pada-Mu. Amin!

Kate – Responsabilita no. 1 – 2012

Kecil tapi Perlu

Zenit, Italia, 26 Juli 2012

Konferensi Sedunia Institut Sekulir telah diakhiri di Asisi.
Pertemuan Tahunan  berfokus pada Panggilan Pria dan Wanita Awam.

Kongres Konferensi Sedunia Institut Sekulir mengakhiri pertemuan tahunannya di Asisi hari ini di mana telah dipilih dewan eksekutif dan ketua yang baru. Konferensi itu juga memberi kesempatan kepada para peserta untuk merefleksikan masa lebih dari 60 tahun sejak kelahirannya.

Institut Sekulir menjadi bagian dari Hukum Gereja di tahun 1947, ketika Paus Pius XII memaklumkan konstitusi apostolik yang memberi mereka dasar yuridis.

Konferensi Sedunia menekankan pentingnya orang awam memberi kesaksian tentang Injil di dunia.

“Kami bekerja sebagai penghubung di antara Tarekat-tarekat dan penghubung di antara kongregasi sekulir.” Kata Giorgio Mazzola, anggota Dewan Eksekutif Tarekat iitu, dalam sebuah wawancara dengan Radio Vatikan.

“Empat tahun sekali Konferensi memilih Dewan Eksekutif dan Ketua baru. Dan biasanya pertemuan diawali dengan sebuah Kongres. Tahun ini kami merefleksikan sumber asli panggilan kami: Kembali ke asal muasalnya…. Pokok yang kami pilih adalah mendengarkan sabda Allah dalam sejarah.”

Melalui Kardinal Tarcisio Bertone, sekjen Vatikan,  Paus Benediktus XVI mengirim pesan kepada semua peserta, supaya menggiatkan panggilan khusus pria dan wanita yang dibaktikan, yang berakar dan berpusat pada Kristus, tetapi dihayati di dalam masyarakat luas.

Mengenai panggilan pria dan wanita awam, Mazzola berkata: “Dari permulaan sekali kerasulan khusus ini bukan saja terjadi di dunia, tetapi sebenarnya tumbuh dari dunia. Kami tidak mencari karya-karya besar seperti rumah sakit atau sekolah. Kami tidak mencari hal-hal yang menyolok. Kami seperti garam yang harus ada di dunia. Dan kami tahu rahmat Tuhan akan mengerjakan sesuatu dari kehidupan kami, asal kami tetap setia pada tujuan awal, yaitu pembaktian diri yang penuh, sekularitas yang utuh, dan komitmen yang bulat di dalam dunia.”

Kota Asisi, di mana konferensi itu diadakan, mempunyai makna yang khusus. Menurut Mazzola, S. Fransiskus adalah “seorang yang hidup di masa perubahan, dan di zaman Gereja banyak menderita.”

“Sangat menarik untuk mengingat bahwa ketika S. Fransiskus mau mendirikan Ordo, ia menyebutnya Saudara-saudara Dina. Dina berarti kecil tapi perlu, karena S. Fransiskus bekerja banyak untuk pembaharuan Gereja. Institut Sekulir ada di jalan yang sama: Kecil tapi perlu.”

Perawan yang dibaktikan di tengah masyarakat: Berseri-seri dan Membaharui

Berseri-seri … karena kita hidup bersama sang Mempelai; berseri-seri karena orang-orang menyadari bahwa kita milik Tuhan. Berseri-seri karena apa yang bisa kita berikan: suka-cita, damai, kerendahan hati, kemurnian.

Membaharui … karena kita tidak dimengerti; membaharui karena orang-orang bertanya tentang cara hidup kita; membaharui du-nia kita yang sekarang, karena perlu bahwa orang “melihat” kehadiran Allah di jalan-jalan. Membaharui karena “dunia” membutuhkan orang-orang awam yang dibaktikan di kota-kota dan desa-desa.

 Arcangela
Responsabilita no. 1, 2012