In Memoriam: Chatrine Maria Supriyani

Pada hari peringatan semua arwah orang beriman, 2 Nov 2011 ini kami kenangkan dirimu yang kami kasihi:

In Memoriam: Chatrine Maria Supriyani

Lahir di Malang, 28 April 1948

Masuk Kompania: 22 Juli 1989
Ikrar pertama: 21 Juni 1992
Ikrar kekal: 22 Juni 1997
Lahir ke dalam hidup kekal:
27 September 2011

Foto diambil di Bali, 8 July 2011 dalam Pernas Kompania Santa Ursula Indonesia.

Tanggapan dari saudari-saudari se-Federasi dan se-Kompania:

Carissima Sr Emma, Carissima Direttrice Meity e Sorelle tutte della Com-pagnia di Sant’Orsola di Indonesia.

La morte prematura di Chatarine ni ha dolorosamente sorpresa! Ho un bellissimo ricordo di Chatarine che risale alla mia visita durante l’Assemblea annuale del 2008 in Bali, quando lei con tanta premura si accompagnava a Kate e a me nelle nostre uscite sulle vie intorno al Carmelo dove eravamo ospitate. La ricordo ancora a Singapore in occasione della Consacrazione finale di Jo e Ebba; é il ricordo è di una persona significativa, colta, discreta ed umile. Certamen-te mancherà e si sentirà il vuoto da lei lasciato nella Comapagnia d’In-donesia. Crediamo che il Comune Amatore” l’ha accolta nel suo abbraccio e ora contempla, con la Madre Sant’Angela il “luminosissimo volto di Dio” che l’ha eletta come “vera ed intatta Sposa” del suo Figlio Gesù Cristo. Mi unisco a voi tutte nella preghiera e condivido con voi il dolora per il distacco e la speranza che ci dona la fede! Un forte abbraccio a ciascuna e un affettuoso fraterno ricordo. Maria Razza, Italia

Terjemahannya:

Yang terkasih Suster Emma, Meity pemimpin, yang terkasih para saudari dari Kompania Santa Ursula Indonesia.

Kematian Chatrine yang terlalu dini membuat saya sangat terkejut dan sedih! Saya mempunyai kenangan yang sangat indah tentang Chatrine ketika mengikuti pertemuan kalian tahun 2008. Dengan penuh perhatian ia menemani Kate dan saya di jalan-jalan waktu kita menginap di Karmel. Saya juga ingat Chatrine ketika kami di Singapore untuk kaul kekal Ebba dan Jo. Saya ingat dia sebagai orang yang istimewa, cerdas, bisa menyimpan rahasia dan rendah hati. Sudah pasti anda akan merasa kehilangan Chatrine dalam Kompania Indonesia. Saya percaya bahwa Amatore kita menyambut Chatrine dalam pelukan-Nya, bersama Bunda Angela memandang ‘wajah Allah yang cemerlang yang telah memilih kita menjadi mempelai yang suci dari Putra-Nya Yesus Kristus’. Saya menyertai anda semua dalam doa dan ikut berduka karena perpisahan ini dan bersatu dengan anda dalam harapan yang memberi iman! Saya memeluk anda sambil mengingat anda dengan sayang.

(diambil dari Hidup Baru bulan Oktober 2011)

Iklan

20 responses to “In Memoriam: Chatrine Maria Supriyani

  1. Ibu Chatrine di mataku sosok yang menyenangkan, halus tutur katanya, sabar, bisa dan mau mendengarkan, maklum karena beliau Jawa dan guru sejati. Ia periang dan kata-katanya bijak. Sayang kesehatan dan fisiknya kurang mendukung. Meski penglihatannya terbatas, ia berusaha keras dan mengatasinya dengan menulis besar-besar dalam buku catatannya dan membaca pakai lensa pada retret bulan Juli yl. Saya satu kamar dengan beliau dan hampir selalu mendampinginya. Kita punya banyak kenangan manis bersama beliau a.l. ketika kita ziarah ke Bunda Maria Sawer Rahmat di Kuningan karena ada satu peristiwa yang membuat beliau sebulat hati pasrah kepada Bunda Maria. Selamat jalan, Sayang. Jadilah pengantara doa-doa kami. Jadilah bibit unggul bagi US.

    Engeline Gardenia, Jakarta.

  2. Saya sangat sedih mendengar berita tentang kepergian Chatrine. Saya sungguh-sungguh amat terkejut. Kami mengenalnya dengan baik, dan seperti anda katakan, ia penggemar musik dan menyanyi. Kemarin sepanjang hari saya ingat dia dalam hati dan budi, dan berdoa bagi istirahat jiwanya. Sekarang ia bersama Tuhan Mempelainya dan bersama para Ursulin yang telah mendahuluinya. Mungkin ia telah melihat Elisa Tarolli. Betapa misterius kematian itu. Semoga Tuhan memberinya istira-hat kekal dan penghiburan bagi keluarganya dan bagi anda saudari-saudarinya yang terkasih, sebab pasti anda kehilangan dia. Sekarang tambah satu lagi di atas sana yang mendoakan Kompania. Jaga diri baik-baik, dan berkat Tuhan.

    Doris Cordina, Malta.

  3. Saya mengenal ibu Catherine saat pertemuan nasional. Dia orangnya tenang, kalau tersenyum pun dengan kalem, serta aktif dalam diskusi. Antar pernas Bu Catherine se-sekali kirim sms, kadang kalau ditelepon sedang berdoa, kata saudaranya kira-kira sejam.
    Sebagai formatris dia juga aktif memantau pertemuan bulanan. Biasanya kemudian Mbak Eny yang kirim laporan kami dari Bandung. Saat pernas 2011 di Bali, saya lihat dia menuliskan catatan dengan huruf besar-besar dan bertumpuk, mungkin itu pun sudah tidak kelihatan. Selamat jalan, Bu Chatrine. Doa kami menyertaimu. Mohon doakan kami yang masih berziarah supaya senantiasa setia pada Amatore.

    Lydia Kidarsa, Bandung

  4. Sedih sekali mendengar tentang kematian Chatrine. Yakinlah bahwa saya mendoakan keluarganya dan Kompania Indonesia. Saya menemani anda semua selama hari ini. Ia sekarang dalam kebahagiaan bersama Tuhan. Semoga ia mendoakan kita semua, khususnya Kompania Indonesia! Salam kasih,

    Hélène de Beauregard, Perancis

  5. Puji Tuhan atas semua cinta dan kebaikan-Nya. Bapa di surga telah me-manggil Mbak Chatrin untuk bergabung dengan Bunda Angela dan semua anggota Ursulin Sekulir yang telah berada di sana. Pertemuan perdana kita pada tanggal 25 Juni 1989 itu sangat berkesan. Kita bertemu dalam pertemuan kerabat St. Angela dan Ursulin Sekulir. Dalam pertemuan waktu itu kita menemukan panggilan hidup bahwa kita dipilih Tuhan untuk menjadi mempelai yang setia dan suci dari Putera Allah. Terima kasih Mbak Chatrine untuk kebersamaan kita selama dalam Ursulin Sekulir
    + Terima kasih untuk kesederhanaanmu dan kehalusanmu.
    + Terima kasih untuk senyummu dan kelemah lembutamu.
    + Terima kasih untuk cinta dan ketulusanmu.
    + Terima kasih untuk perjuangan menjalani hidup sebagai Ursulin Sekulir.
    + Terima kasih untuk apa saja yang telah aku terima: perhatian dan cintamu dalam kebersamaan dan perjumpaan kita.

    Setiap tahun dalam Pernas aku selalu merasakan kebaikan dan pehatianmu yang tulus buatku. Dalam kebesamaan kita itu mungkin saja ada kata dan sikapku yang telah membuatmu tidak enak hati atau tersinggung. Maka aku mohon maaf. Akan kudoakan setiap hari, semoga mbak telah berada di surga bersama Bunda Angela, dan mendoakan Ursulin Sekulir yang kita cintai ini. Mbak Chatrine, terima kasih untuk segalanya.

    Rosa da Silva, Kupang.

  6. Sedih sekali mendengar berita tentang kepergian Chatrine. Saya yakin anda semua sangat sedih. Saya ingin menghibur anda dengan doa-doa-ku. SATU-SATUNYA harapan kita ialah bahwa ia sekarang melihat YE-SUS dari muka ke muka. Ya, saya pasti akan terus mendoakan Chatrine dan kalian semua. Semoga anda terhibur.

    Salam kasih,

    Ebba Fernandez, Singapore.

  7. Perjalanan hidup manusia teramat singkat. Mbak Chatrine telah memberi yang terbaik dalam hidup ini, terus berusaha untuk perkembangan Ursulin Sekulir di Malang. Semoga harapan, cita-cita dan semangatnya dapat diteruskan oleh saudari-saudari US semua. Tiada kata yang dapat saya ucapkan selain selamat jalan, Mbak Chatrine! Amatore, Bunda Angela, Ibu Elisa Tarolli telah menyiapkan tempat yang indah di surga. Jadilah pendoa buat US. Teriring duka yang dalam dan doa untuk saudariku Mbak Chatrine,

    Meity Wijaya, Jakarta.

  8. Ibu Chatrine orangnya sangat baik dan setia dalam panggilannya dan baik hati kepada setiap orang.

    Nini Kedang, Flores.

  9. Mbak Chatrine selamat jalan. Engkau Ibu yang baik hati kepada semua orang. Engkau memberi arti panggilan sebagai Sekulir yang sejati. menghayati dengan gembira seperti Bunda Pelindung kita. Selamat jalan Mbak, kami kenangkan dalam doa.

    Jasintha Hadjon, Flores

  10. Saya mengenal Ibu Chatrine sebagai orang yang ramah, sabar, penuh pengertian, dedikasi dan pengabdian. Ia kuat dalam penderitaan sampai akhir hidupnya. Selamat jalan, Ibu Chatrine, dan berjumpa dengan Amatore serta Bunda Angela di Rumah Abadi di Surga.

    Cresensiana Aso – Ona, Kupang.

  11. Bu Chatrine orangnya perhatian, rendah hati, menerima penderitaannya dengan pasrah dan masih banyak lagi…. Tadi ia dimakamkan jam tiga siang. Banyak yang mengantar. Saya merasa kehilangan. Tapi saya terhi-bur karena Bu Chatrine sudah bertemu dengan Amatore, Kekasih kita semua. Saya yakin, karena saya lihat jenazahnya tersenyum.

    Tina Kristina, Malang.

  12. Bu Chatrine orangnya baik, punya semangat yang tinggi, tidak pemarah, banyak senyum, ramah, perhatian, tidak pilih kasih, bisa bergaul dengan siapa saja. Ia suka mendahului dalam memberi hormat dan melayani. Ia sabar menerima penderitaan. Riwayat penderitaannya mulai dengan ditabrak, sehingga tangan patah dan harus dioperasi, dahi dijahit. Lalu ketahuan Bu Chatrine punya batu empedu. Menurut dokter, operasi harus ditunda dulu, menunggu ia sembuh. Mamang sudah lama Bu Chatrine menderita diabetes, membuatnya sulit melihat. Jadi setelah opname di Sangkal Putung, ia istirahat seminggu di rumah. Sempat kontrol mata di Batu. Karena sulit tidur, ia diberi obat tidur, yang membuatnya sesak nafas. Tuhan melihat sudah cukuplah penderitaan kekasih-Nya ini. Maka Ia memanggilnya pulang. Bu Chatrine yang baik, selamat bahagia dalam pelukan Amatore.

    Lusi Kaminah, Malang.

  13. Chatrine sayang, aku membisu di depan fotomu. Tuhan telah memanggilmu karena kau terlalu baik untuk dunia ini. Selama kita berkenalan sejak 1989, kau belum pernah satu kali pun atau sedikit pun menyakiti hatiku. Sebaliknya selalu siap menyenangkanku dengan berbagai cara. Kata-katamu yang manis, senyummu yang menawan menyembunyikan derita karena penyakit diabetis yang membuatmu tidak nyaman karena menghambat penglihatan dan begitu banyak pantanganmu. Tapi tak pernah kau mengeluh. Dalam setiap perjumpaan, pasti telah kausediakan sebuah bingkisan untuk menyenangkanku. Terakhir sepasang sandal yang saat ini kukenakan untuk mengenangmu. Kau selalu berpikir positif dan banyak akalmu untuk membuat hidup ini menyenangkan. Masih ingat di Singapore kita tiap kali manjat jendela yang cukup tinggi untuk mengurus jemuran sambil ketawa geli takut kelihatan orang nanti disangka maling. Waktu kudengar Chatrine sakit karena ketabrak, aku tidak menengok, bahkan tidak kirim sms untuk menanyakan keadaanmu. Tahu-tahu kau pergi untuk selamanya… Wajahmu selalu terbayang. Aku banyak sekali berutang budi padamu. Aku malu karena belum sempat membalas cintamu yang besar itu. Doakan aku hamba yang tak pantas ini.

    Sr. Emma Gunanto, Bandung.

  14. Saya ikut berduka sedalam-dalamnya atas kepergian saudari kita tercinta dan pembina US Indonesia. Saya ingat betul dari kunjungan-kunjungan saya ke Indonesia dan ketika bersama-sama di Singapore, perjumpaan saya yang terakhir dengan dia. Ia telah bekerja keras untuk Kompania dan para saudari. Santa Angela pasti datang menjemputnya untuk mengantar-nya kepada Amatore. Sekarang ia melihat kita dari surga. Ia mengenal kita dan pasti mau dan bisa menolong. Saya menyerahkan dia kepada Tuhan, dan mendoakan anda semua yang mencintainya. Sekarang kita bisa merasakan kehadirannya lebih dekat karena persekutuan para kudus.

    Peluk cium

    Caterina Dalmasso (Kate) Italia.

  15. Pertama kali aku mengenal Mbak Chatrine yang kurasakan kehangatan dan perhatian. Dia lemah lembut dan periang, sabar dan mau belajar pada siapa saja dan tidak malu bertanya, walaupun ia seorang guru. Perhatian dan kelemahlembutannya itu tak akan kulupakan. Juga kehangatan sebagai saudara setiap kali kita ketemu di Pernas. Kesetiaannya sebagai sekulir ia tunjukkan dengan kesederha-naan dan sukacitanya. Waduh, siapa lagi yang mimpin nyanyi dan mengambil nada kalau US mau nyanyi. Mbak Chatrine, terima kasih untuk kenangan indah yang kautinggalkan untuk kami. Aku hanya bisa mengucapkan selamat jalan. Semoga engkau menjadi jembatan dan pengantar doa-doa kami pada Amatore Kekasih kita. Amin.

    Yohana Eny, Bandung

  16. Saya ingat benar Chatrine dan masih terbayang senyumnya yang manis. Ia hadir waktu saya kaul kekal. Dia memberkati saya sementara memeluk saya dengan hangat sambil tersenyum manis. Keceriaannya merupakan ciri khasnya. Itu saya ingat ketika kami bertemu Juli 2008. Siapa sangka kami hanya akan bertemu dua kali, dan bahwa pertemua kedua tahun lalu akan menjadi yang terakhir? Namun, sebagai anak Tuhan, saya berani berkata bahwa kita akan bertemu lagi saat Tuhan memanggilku pulang dalam pelukan-Nya yang abadi. Maka kita akan berkumpul lagi dan bersukacita bersama-sama dalam kebaikan Allah. Demikianlah harapan yang kita simpan dalam hati sebagai orang katolik. Hidup kita di bumi hanyalah ziarah. Kewarganegaraan kita ada di surga. Puji Tuhan! Berilah istirahat kekal kepada Chatrine ya Tuhan, dan semoga terangmu yang abadi menyinari dia. Semoga ia karena belas kasih-Mu beristirahat dalam damai kekal. Amin.

    Marilah kita berdoa dalam kata-kata Fr. Bede Jarrett, OP:

    Kami seolah memberi mereka kembali kepada-Mu, ya Allah, mereka yang yang telah Kauberikan kepada kami. Namun, seperti Engkau tidak kehilangan dalam pemberian itu, demikian juga kami tidak kehilangan dengan kembalinya mereka kepada-Mu. Engkau memberi, tidak seperti dunia memberi, ya pengasih jiwa-jiwa. Apa yang Kauberi, tidak Kauambil kembali, sebab kalau kami ini milik-Mu, maka apa yang Kaumiliki adalah milik kami juga. Hidup itu kekal, dan kasih itu abadi. Kematian hanyalah cakrawala, dan cakrawala itu tiada lain dari keter-batasan pandangan kami. Angkatlah kami, ya Putra Allah yang kuat, agar kami bisa melihat lebih jauh. Bersihkan mata kami agar kami melihat lebih jelas. Tariklah kami lebih dekat pada-Mu, agar kami merasa lebih dekat dengan orang-orang yang kami sayangi, yang sudah bersama-Mu. Dan sementara Engkau menyiapkan tempat bagi kami, siapkan kami juga bagi tempat kebahagiaan itu sehingga di mana Engkau berada, kami juga boleh berada untuk selama-lamanya. Amin.

    Josephine Liow, Singapore

  17. Ibu Chatrine adalah pekerja keras, hatinya sangat sederhana, setia mendengarkan orang lain dan selalu tersenyum. Apapun beban hidup atau persoalan yang sedang digeluti tidak pernah mengeluh dan dijalani seperti air mengalir karena beliau yakin dan percaya bahwa Dia selalu menyertainya, sehingga semuanya indah pada waktunya.
    Hal ini terbukti , beberapa hari sebelum kepergiannya, saya sempat beberapa kali telpon untuk menanyakan keadaan beliau, dan selalu dijawab ” mba mia, aku baik-baik saja cuma agak sussah bergerak setelah tabrakan itu”. Dan ini menujukan bahwa beliau hanya mau berbagi tentang hal-hal yuang menggembirakan saja. Beliau tidak mau membuat beban bagi orang lain.
    Suster, itulah sedikit kesanku tentang almrh mba Catrin. Saya yakin dan percaya bahwa beliau sudah bahagia di sana dan menjadi pendoa juga buat kita2 yang masih berjuang di bumi ini.

    Mia Raring, Jakarta

  18. Dear Suster Emma,

    Menurut perhitungan kami kemarin tanggal 4 Oktober 2011, tujuh harinya ibu Chatrine Supriyani dipanggil Tuhan. Ona dan saya bersama dengan umat kami membuat doa tujuh hari. Kiranya dengan doa-doa kita semua Ibu Cathrine mendapat tempat di surga, bersama Bunda Angela terus menerus memuliakan Tuhan. CInta amatore selalu bersama kita,

    Rosa da Silva, Kupang

  19. Terima kasih sudah mengabari kami tentang Chatrine. Saya ingat sekali waktu Catherine datang dengan Meity dan Sr. Emma ke Singapura pada bulan Januari 2010. Dia sangat lembut dan hangat. Saya sangat menyukainya. Sedih kehilangan dia.. peranannya penting dalam Kompania, tetapi juga… suatu sukacita besar bagi Catherine!

    Monica Vaughan, Australia

  20. Dear Chatrine, I remember you with fondness. In 2008 we were at Bali and I gave you a crucifix while we were travelling in the van. Next year I will, God willing, visit all our sisters in Malang together with Helene, Monica and Ebba. Although we will not see you in person because you have returned to our Amatore, please pray for all of us. May your soul and the souls of the faithful departed rest in peace. Amen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s