Hidup Doa Kita

sebagai sekulir membina relasi dengan Allah melalui doa

“Tinggallah di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu.” Yoh 15:4

Saudari terkasih, Tuhan adalah misteri. Untuk menyelami Dia saya perlu kerendahan hati, yang mau menerima bahwa saya tidak mengerti. Perlu semangat seperti anak kecil, yang untuk menerima Dia, menyambut Dia.

Tuhan amat baik. Ia tidak menganggap banyak yang tidak mengerti sebagai kegagalan, tetapi sebagai anugerah cuma-cuma dari Bapa. Maka setiap hari kita merenungkan Dia, berusaha mengenal-Nya lebih dekat lagi, lewat situasi keseharian kita, serta waktu-waktu khusus untuk menjalin hubungan yang akrab, saat berdua saja dengan Dia.

Kata Yesus, “Menurut kamu, siapakah Aku ini ?”

Doa meliputi banyak segi. Bila dilihat doa Bapa Kami.. banyak hal yang dibicarakan dengan Tuhan..

Doa-doa juga banyak diungkapkan dalam Kitab Suci:

Dalam Perjanjian Lama, Kitab Mazmur, misalnya, diungkapkan doa umat Allah dalam berbagai situasi kehidupan.. dalam segala yang kita temui dalam peziarahan hidup kita, dari doa pujian, permohonan, maupun ratapan… baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam rombongan umat-Nya.

Sebuah perikop dalam kitab Raja-raja,  menceritakan hasil doa Nabi Elia.

Nabi Elia dikejar-kejar mau dibunuh, lalu ia berdoa pada Tuhan. Suasana doa Elia digambarkan dalam 1 Raj 19:11-13.
Elia berdoa, dan buah doanya adalah: ia dimampukan untuk menjadi saksi yang berani di tengah umat Allah.

Dalam Perjanjian Baru diceritakan buah doa Yesus di Gunung Tabor.

Setelah berdoa di Gunung Tabor, Yesus siap memberi kesaksian di hadapan orang banyak, bahkan bila hal itu membawa-Nya kepada sengsara dan maut. Yesus kemudian masuk Yerusalem, disana penolakan menantinya, namun Ia taat teguh. Berapa lama Yesus berdoa? 40 hari tanpa terputus! Bukan waku yang sedikit.

Regula kita, terutama dalam bab V, mengungkapkan lebih jauh tentang hidup doa kita. Bahannya kaya sekali, antara lain bisa diungkapkan disini, bahwa dalam Regula Bab V – 10 dituliskan “..bila kita mengucapkan doa ofisi, kita berbicara dengan Allah.. ”

Beberapa tips praktis:

Walau sebagai seorang Sekulir kita tidak bisa mendengar lonceng angelus dibunyikan seperti di gereja, kita bisa melihat tanda-tanda sekeliling, misalnya fajar menyingsing dan matahari terbenam sebagai mengingat doa  pagi dan sore, atau memasang alarm reminder waktunya meditasi pada jam weker atau telepon seluler. Hal lain bagi kita yang tinggal di bumi pertiwi ini adalah terdengarnya seruan saudara kita yang beragama lain untuk berdoa pada jam-jam tertentu..

Sebuah pengalaman pribadi saat mengikuti pelatihan selama 2 minggu di luar kota: “..saya membawa buku ofisi, namun awalnya ada perasaan sedikit sungkan untuk membukanya di depan teman lain pada jam istirahat. Tetapi kemudian masalahnya, di penginapan pun, kami sekamar berdua. Saya pikir, kalau dia mandi baru akan saya buka doa saya. Ternyata habis mandi dia berdoa menurut agama dan kepercayaannya. Jadi saya doa juga, tidak ada alasan tidak mendengar lonceng sampai keburu ngantuk malam hari… lha di depan saya ada orang berdoa?”

Yesus juga mengatakan, bahwa Dialah pokok anggur, dan kita cabangnya. Pertama-tama cabang harus menempel pada pokok anggur. Tanpa menempel pada pokok anggur cabang akan segera menjadi kering. Di tengah dunia yang amat sibuk ini hidup doa kita menjadikan kita selalu menempel pada-Nya.

(dari sharing dan bahan panduan Pertemuan Nasional Ursulin Sekulir 2011, yang bersumber dari Pertemuan Internasional).

Iklan

2 responses to “Hidup Doa Kita

  1. terima kasih saya telah membaca sharingnya. sebagai pengikut ordo awam saya sarankan teruskan doa ofisinya. Pax Et Bonum/Pace E Bene dari Sdr. Antonius Susanto OFS

  2. Terima kasih Sdr. Antonius Susanto OFS. Sama-sama 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s