ST Pio, Sahabat Kapusinku

Bulan depan, September 2010 adalah perayaan 100 tahun Padre Pio.
Berikut adalah sharing dari Josphine. Thanks Jo!

ST PIO, SAHABAT KAPUSINKU

Ketika itu tahun 1994, setahun setelah saya dibaptis. Ketika itu saya masih dalam “bayi” dalam hal-hal spiritual. Pengalaman spiritual saya yang pertama sangat berkesan dan saya merasakan bahwa rekoleksi dan retret adalah “vitamin” bagi kehidupan rohani saya. Syukur kepada Tuhan untuk retret di tahun 1994 itu, bersama 14 orang imam dan banyak orang awam.
Satu pelajaran berharga yang saya dapatkan dari retret itu adalah betapa banyaknya tantangan dan godaan yang harus dihadapi para imam. Saya tak akan lupa satu kesaksian yang dibawakan oleh seorang imam yang hampir meninggalkan imamatnya. Dia terbuai oleh gemerlapnya kehidupan kota besar dan godaan untuk meninggalkan imamatnya sangat kuat. Syukur kepada Tuhan bahwa ia diselamatkan oleh intersesi kepada Bunda Maria dan St. Pio.
Dalam perjalanannya incognito ke Eropa, imam ini mampir di San Giovanni Rotondo, tempat kediaman St Pio. Walaupun ia tidak mengenakan atribut keimamannya, orang-orang menyapanya dengan sebutan “Romo”. Bahkan ia diundang untuk mempersembahkan misa. Betapa tersentuh hatinya oleh belaskasih Tuhan, dan pengalaman tersebut menjadi titik balik kehidupannya. Ia sadar bahwa Allah begitu mencintainya dan ia tak mungkin dapat menghindari panggilanNya.
Sambil menceritakan pengalamannya, airmatanya jatuh berderai. Dan kamipun turut menangis bersamanya. Kesaksian ini berdampak kuat pada diriku. Saya menyadari betapa para imam butuh kasih kita, doa dari kita agar mereka dapat tetap menjadi imam yang suci dan bertahan dalam panggilannya.
Setelah mendengarkan kesaksian, kami melakukan Adorasi Sakramen Kudus, dan seorang imam dari negara lain mengundang para peserta retreat awam untuk mendoakan para imam. Ia meminta agar kami semua bersedia menjadi “ibu rohani” bagi para imam. Saya mohon kepada seorang imam untuk didoakan. Sebuah relik St Pio – satu dari beberapa sarung tangan yang pernah dipakai St Pio semasa hidupnya ketika mengalami stigmata – disentuhkan ke kepala saya sambil imam tersebut mendoakan saya. Sejak saat itu saya menjadi anak rohani St. Pio. Tak pernah terpikirkan oleh saya bahwa saya akan menjadi perantara bagi para imam. Sampai hari ini, dengan berkat Tuhan, saya dapat berkata bahwa saya masih menepati janji itu.
Bertahun-tahun kemudian, ketika St Pio telah dinyatakan sebagai santo pada tahun 2002, saya mendapat kesempatan mengunjungi komunitas imam Kapusin di Ulu Tiram, Johor, Malaysia, ditemani oleh 2 orang imam Kapusin dan 2 orang awam. Kali ini, ketika saya akan menerima Komuni Kudus, saya mendapat suatu pengalaman iman. Saya mencium bau yang sangat harum, menandakan kehadiran St Pio! Ya, St Pio bukan saja sahabat saya, tetapi juga sahabat kita semua. Bila kita mengikuti ajakannya untuk mencintai Bunda Maria, berdoa Rosario, menerima dengan tabah kesusahan dan penderitaan kita dan mempersatukannya dengan penderitaan Tuhan kita …. Ya, banyak sekali ajaran St Pio, dan yang dapat kita tiru akan membawa kita untuk mencintai Misa Kudus dan berjuang keras untuk hidup suci. St Pio, doakanlah kami!

http://joliow.wordpress.com/2010/07/01/st-pio-my-capuchin-friend/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s