Novena Persiapan Hari Santa Angela 27 Jan

Doa hari pertama, kedua, dan ketiga

Tuhan, Engkau memanggil kami untuk bekerja di kebun anggurmu.

Buatlah agar kami memiliki perhatian yang tulus akan karya keselamatan-Mu.
Kuatkan kami dalam menekuni karya-karya yang telah Engkau percayakan pada kami.
Bantulah kami mendengar panggilan-Mu dalam saudara-saudari kami,
yang mencari kami saat menentukan arah hidupnya;
dalam anak-anak dan kaum muda,
yang boleh kami temani perjalanan hidupnya;
serta dalam orang-orang yang bekerja bersama kami.

Terima kasih atas kasih dan dukungan-Mu.
Berilah kami kekuatan dan keberanian Roh Kudus-Mu,
sehingga kasih dan perhatian-Mu pada umat-Mu
menjadi nyata dalam hidup ini.
Terangilah dan dukunglah kami,
supaya bersama-sama kami menemukan jalan menuju Dikau.

sumber

Doa Hari ke-4  (21 Jan)

Tuhan, Engkau mengetahui kerinduan kami akan kedamaian dan akan anugerah hidup bersama dalam damai.

Engkau tahu ketakutan kami terhadap tekanan dan penghinaan.
Engkau mengenal kecenderungan kami ingin meninggikan diri di atas orang lain,
menempatkan diri kami di tengah-tengah.

Engkau juga tahu, bahwa saat ada perbedaan pendapat,
kami dapat saling menyakiti dan hal ini sungguh melelahkan kami.

Biarlah kami mengerti bahwa hanya Dikaulah pusat kami,
pusat perhatian kami,
pusat yang menyatukan kami,
pusat yang kami cari bersama dengan hati yang rindu.

Berilah kami kekuatan serta kesabaran menjalani tugas sulit:
membawa damai dan keserasian pada seluruh kehidupan kami, dalam rumah, dalam kompania, dalam gereja dan masyarakat kami,sehingga Kerajaan Damai-Mu dapat tumbuh di dunia.

sumber

Doa Hari ke-5 (22 Jan)

Tuhan… menemukan perlindungan di kaki-Mu
berarti berdiri di bawah salib-Mu

Aku bergulat menerima hal ini…
Aku ingin membuang semua salib hidupku:
kegagalan, kesepian, rasa iri hati, ketakutan, sakit, kematian..
Tetapi mereka selalu muncul, begitu tiba-tiba, dan begitu tak disangka.

Tuhan, saat aku memandang-Mu:
bergantung di salib bagaikan penjahat,
dikhianati sahabat sendiri,
wafat karena kebencian,

saat itulah aku merasakan bahwa penderitaan
tak dapat dihapuskan dari hidupku.

Tapi aku juga belajar…
bahwa aku tidak sendirian dalam penderitaanku:
ada Dikau, Engkau membungkus aku dalam kasih-Mu.

Tuhan, salib-Mu adalah janji bahwa tiada yang mustahil bagi-Mu.
Di bawah salib-Mu tak seorang pun sendirian,
sebab kematian-Mu adalah awal hidup baru,
awal hidup Gereja.

Engkaulah pusat persatuan
semua yang percaya pada-Mu.

sumber

Doa hari ke-6 dan ke-7 (23 dan 24 Jan)

“Gesu Christo Unico Tesoro”
Yesus Kristus Satu-satunya Harta

Tuhan,

Di saat kami meletakkan harapan kami
pada hal-hal yang sementara,
segala sesuatu yang kami genggam erat-erat,
pengakuan,
gengsi dan penghargaan,
di saat kami kecewa ataupun putus asa
karena apa yang kami harapkan tidak terpenuhi,
kasihanilah kami, ya Tuhan,
dan arahkanlah hati kami pada-Mu

Biarlah kami melihat dalam terang Roh Kudus-Mu bahwa
Kasih-Mu lebih besar daripada apa pun yang menggoda maupun mengecewakan kami.

Bantulah kami mengerti bahwa Dikaulah harta kami satu-satunya,
harapan kami dan sumber sukacita kami.

sumber

Doa hari ke-8 (25 Jan)

Tuhan…

Alangkah sukarnya bagiku untuk berlaku adil pada sesamaku!

Betapa aku tidak sabar akan kelemahan mereka sehari-hari, atau terhadap apa pun yang bagiku terlihat sebagai kelemahan.

Betapa seringnya aku kecewa dan sakit hati karena tidak cukup perhatian dicurahkan pada masalahku dan kebutuhanku.

Dalam diri sesama dan diriku sendiri, seringkali aku hanya ingin mencari keahlian, kemampuan dan bakat-bakat.

Sesungguhnya aku ingin bisa menyemangati orang-orang yang memandang hina dirinya sendiri, dan menghibur mereka yang kelelahan dalam menjalani hidup sehari-hari.

Aku ingin bisa bersabar akan hal-hal dalam sesamaku yang biasanya aku tidak tahan!

Aku berharap bisa merasakan bagaimana harga diri sesamaku bisa tumbuh… melalui sikap bersahabatan, kata-kata peneguhan, dan pelukan penuh kehangatan.

Tuhan, ajari kami untuk melihat dengan mata-Mu dan untuk mengenali kebaikan dalam diri sesamaku.

Aku tahu Engkau mencintai kami semua.
Dalam ikatan cinta-Mu,
kami akan mengikuti Dikau sebagai saudara dan saudari.

sumber

Doa hari ke-9 (26 Jan)

Tuhan, Engkau mengundangku untuk percaya.

Di saat aku menerima undangan-Mu,
hidupku tidak menjadi lebih enak
karena kepercayaanku itu.

Aku berusaha mengikuti Putera-Mu Yesus,
dan aku menemukan keterbatasan-keterbatasanku,
namun Aku juga mengalami betapa luas cinta-Nya

Aku berusaha melihat dunia dengan mata-Nya,
belajar hidup sebagai saudara dan saudari,
serta belajar memikul tanggung-jawab.

Tuhan, Engkau tidak menyingkirkan
segala kesukaran hidupku dan
beban pengambilan keputusan.

Namun saat aku bertanya pada-Mu,
di saat hati dan budiku mendengarkan-Mu,
aku mengerti arah yang harus kuambil,
di saat itulah aku mengetahui:

Dengan meletakkan kepercayaanku hanya pada-Mu
Hidupku menjadi lebih hidup!

Tuhanku, aku bersyukur pada-Mu!

sumber

Selamat Natal


Semoga Bintang Betlehem menerangi jalan kita
di sepanjang tahun 2012
dalam suka dan duka
hingga selamat sampai ke tujuan
dan anda sekeluarga / sekomunitas tetap aman dan nyaman
dalam naungan kasih Tuhan..

Selamat Bahagia Natal dan Tahun Baru 2012.

Satu dalam doa,
Sr. Emma Gunanto, OSU

Berziarah bersama Federasi

Betapa Bahagia Kami atas Berkat-Mu!

Bulan Agustus 2011, saudari-saudari Kompania Santa Ursula dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk berziarah bersama ke Tanah Suci. Saudari kita Edda membagikan pengalamannya untuk kita semua.

Kami tiba di bandara Malpensa di kota Milano, Italia, dini hari tanggal 4 Agustus 2011.

Tak ada yang mengantuk walaupun banyak yang tidak bisa tidur. Semuanya terlalu gembira karena akan memulai perjalanan ini! Fajar pagi menyapa kami dengan sinar kuning kemerahan seakan langit ingin mengatakan, “Semoga yang kalian lihat dan rasakan nanti menyinari kalian!”. Pesawat pun mulai terangkat ke udara.

Kota Tel Aviv menyambut kami dengan pancaran matahari benderang, dan kami pun meluncur di landasan lebar dan mulus.

Kaisarea adalah tempat pertama yang kami kunjungi. Kota ini didirikan oleh Raja Herodes Agung. Di sana terdapat reruntuhan istana perwakilan kerajaan Romawi. Di tempat inilah Rasul Paulus ditawan sebelum dikirim ke Roma. Di sini pula Rasul Petrus membaptis Kornelius, seorang perwira Romawi, beserta seisi rumahnya.

Dari Kaisarea kami pergi ke Gunung Karmel. Kami naik ke atas gua tempat tinggal Nabi Elia, dan merayakan Perayaan Ekaristi di sana. Di dalam gereja tersimpan patung Maria Bunda Karmel.

Lalu kami mendaki puncak Haifa untuk melihat kecantikan kota itu dari atas, sebelum menjelajahinya. Kota itu penuh keaneka–ragaman dalam segala hal. Penduduknya dari berbagai bangsa dengan pakaian berwarna-warni.  Di perumahan serta perkampungan mereka terdapat suasana yang bermacam ragam.

Sedikit lelah, kami menuju Bukit Sabda Bahagia. Di sanalah kami akan tinggal. Kami tiba malam hari, makan lalu istirahat. Di benak kami bermunculan banyak hal yang telah kami ketahui, dengar dan baca tentang tempat ini. Inilah bukit di mana Yesus mengucapkan Sabda-sabda Bahagia… Aku teringat saat-saat aku merenungkan sabda-sabda Yesus itu. Sudah berkali-kali kami merenungkannya selama beberapa tahun ini. Sungguh indah. Kami pun tertidur.

Terima kasih Tuhan atas anugerah-Mu boleh berada di tempat kudus ini.

( Dimuat dalam Buletin Responsibilita no. 3  Tahun 2011.)

Carilah Tuhan, temukanlah Dia, milikilah Dia…

Saudari terkasih, di bawah ini adalah oleh-oleh Ziarah ke Yerusalem yang dituliskan oleh Caterina Dalmasso (Kate), yang dituliskan dalam buletin Responsibilita 3 tahun 2011. Terima kasih Kate.

Kita mencari Tuhan sepanjang hidup, kita menemukan Dia waktu kita mati, dan kita memiliki Dia selamanya!

Sewaktu kami sedang melakukan ziarah ke Tanah Suci, Mgr Adriano Tessarollo seringkali mengingatkan kami tiga kalimat kunci ini, kalimat yang membantu kita mengarahkan jalan dalam ziarah hidup sehari hari kita di dunia …  Mencari, menemukan, dan memiliki… adalah tiga pekerjaan yang dapat dilakukan pada saat yang sama karena Yesus Kristus ada dahulu, sekarang, dan dimasa depan.

Mencari Tuhan …  suatu tugas seumur hidup. Dan kami beruntung boleh mencari Dia di jalan-jalan Tanah Suci, dimana setiap sudut, setiap pemandangan, dimana pun … mengingatkan pada Sang Penebus kita dan membantu kami menemukan Dia. Kita akan terus mencari Dia bahkan di jalan-jalan yang kita lalui, di desa dan kota kita, diantara orang-orang sekitar kita, dalam suatu percakapan yang intim bersama Dia, dalam hubungan yang penuh kasih dari sang pengantin dengan Kekasih yang Satu itu, Kekasih bersama dan semua yang dicintai-Nya.

Bertemu dengan Tuhan… ini akan terjadi dalam perjalanan kita umtuk mendapatkan kehidupan kekal, tetapi sekarang pun kita dapat menemukan dia melalui Firman-Nya, Kehadiran-Nya, kedekatan-Nya, dan Kasih-Nya. Pertemuan ini memberikan kita penghiburan, kekuatan, dan tekad yang kuat untuk melanjutkan perjalanan kita di sisi-Nya.

Memiliki Tuhan … akan tiba saatnya untuk memasuki kehidupan kekal. Tetapi kekekalan itu telah dimulai, kita adalah milik Tuhan sekarang, dan kita memiliki Dia: Melalui Dia kita memiliki segala kebaikan dan tidak kekurangan suatu pun. Kita mencari, kita menemukan, kita memiliki… dan mau kami mau berbagi dengan anda melalui surat ini, karena kami menyadari apa yang kami temukan tertulis dalam konstitusi kita “dengan saling berbagi antara saudari-saudari kita dalam Kristus, kita dibantu untuk hidup menurut Roh dalam kehidupan pribadi, sosial dan menggereja, untuk saling mendukung dan mengatasi cobaan-cobaan dalam ziarah hidup kita di dunia ini.”

Mencari Dia …… Menemukan Dia ….. Memiliki Dia….

In Memoriam: Chatrine Maria Supriyani

Pada hari peringatan semua arwah orang beriman, 2 Nov 2011 ini kami kenangkan dirimu yang kami kasihi:

In Memoriam: Chatrine Maria Supriyani

Lahir di Malang, 28 April 1948

Masuk Kompania: 22 Juli 1989
Ikrar pertama: 21 Juni 1992
Ikrar kekal: 22 Juni 1997
Lahir ke dalam hidup kekal:
27 September 2011

Foto diambil di Bali, 8 July 2011 dalam Pernas Kompania Santa Ursula Indonesia.

Tanggapan dari saudari-saudari se-Federasi dan se-Kompania:

Carissima Sr Emma, Carissima Direttrice Meity e Sorelle tutte della Com-pagnia di Sant’Orsola di Indonesia.

La morte prematura di Chatarine ni ha dolorosamente sorpresa! Ho un bellissimo ricordo di Chatarine che risale alla mia visita durante l’Assemblea annuale del 2008 in Bali, quando lei con tanta premura si accompagnava a Kate e a me nelle nostre uscite sulle vie intorno al Carmelo dove eravamo ospitate. La ricordo ancora a Singapore in occasione della Consacrazione finale di Jo e Ebba; é il ricordo è di una persona significativa, colta, discreta ed umile. Certamen-te mancherà e si sentirà il vuoto da lei lasciato nella Comapagnia d’In-donesia. Crediamo che il Comune Amatore” l’ha accolta nel suo abbraccio e ora contempla, con la Madre Sant’Angela il “luminosissimo volto di Dio” che l’ha eletta come “vera ed intatta Sposa” del suo Figlio Gesù Cristo. Mi unisco a voi tutte nella preghiera e condivido con voi il dolora per il distacco e la speranza che ci dona la fede! Un forte abbraccio a ciascuna e un affettuoso fraterno ricordo. Maria Razza, Italia

Terjemahannya:

Yang terkasih Suster Emma, Meity pemimpin, yang terkasih para saudari dari Kompania Santa Ursula Indonesia.

Kematian Chatrine yang terlalu dini membuat saya sangat terkejut dan sedih! Saya mempunyai kenangan yang sangat indah tentang Chatrine ketika mengikuti pertemuan kalian tahun 2008. Dengan penuh perhatian ia menemani Kate dan saya di jalan-jalan waktu kita menginap di Karmel. Saya juga ingat Chatrine ketika kami di Singapore untuk kaul kekal Ebba dan Jo. Saya ingat dia sebagai orang yang istimewa, cerdas, bisa menyimpan rahasia dan rendah hati. Sudah pasti anda akan merasa kehilangan Chatrine dalam Kompania Indonesia. Saya percaya bahwa Amatore kita menyambut Chatrine dalam pelukan-Nya, bersama Bunda Angela memandang ‘wajah Allah yang cemerlang yang telah memilih kita menjadi mempelai yang suci dari Putra-Nya Yesus Kristus’. Saya menyertai anda semua dalam doa dan ikut berduka karena perpisahan ini dan bersatu dengan anda dalam harapan yang memberi iman! Saya memeluk anda sambil mengingat anda dengan sayang.

(diambil dari Hidup Baru bulan Oktober 2011)

… bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu …

Pohon itu rasanya tidak pernah lupa disirami. Tapi kok.. layu? Padahal dulu bagus sekali bunganya. “Neng, ini pohonnya lagi sedih, ditinggal sama yang punya”, demikian penjelasan Mang Neles, pak kebun yang datang membantu kami sebulan sekali . Aku heran.. pohon aja.. bisa kok bisa sedih ya? “Coba diajak ngomong.” Aku langsung nyengir dengan sopan, “aneh-aneh saja, masak ngobrol sama tanaman”, pikirku.

Suatu hari aku harus tinggal di rumah. Karena bosan aku memandangi pohon itu. Kasian juga, makin hari makin kering. Aku sirami banyak-banyak, lalu kucoba kuajak ngomong dia, mumpung engga ada yang lihat. “Kenapa sih kamu, ayo sekarang kan ada saya, saya yang ngajak ngobrol ya! Jangan sedih terus dst”.

Esoknya kulihat dia, ada titik-titik hijau muda kecil, ah masa iya secepat itu.. mungkin saja warnanya memang begitu.. Hari berikutnya sudah ada pucuk daun. Ajaib! pikirku. Dalam satu malam saja?

Saat hal ini kurenungkan aku merasa Tuhan mau mengajarku. Selama ini segalanya kulihat dari kacamata logisnya saja, bahwa selalu ada penjelasan yang masuk akal untuk segala sesuatu, kalau tidak berarti belum ketemu, tapi pasti ada, dan aku akan mengubernya, supaya nanti bisa memukan solusi logisnya.

Saat ini, seolah Tuhan mau bilang “Lyd.. tenanglah dan lihatlah! Bahkan dari pohon yang sudah kering pun Aku bisa menumbuhkannya kembali… Eta mah gampiiil.. (itu mudah).”

Memang, tentu dari TK aku sudah belajar Tuhan itu Pencipta, tapi maknanya baru kusadari sedikit demi sedikit, bahkan kadang kulupa. Aku belajar dari Mang Neles, yang dekat dengan alam ciptaan Tuhan.                                               Lyd

“Malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.” Mrk 4:27

Hidup Doa Kita

sebagai sekulir membina relasi dengan Allah melalui doa

“Tinggallah di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu.” Yoh 15:4

Saudari terkasih, Tuhan adalah misteri. Untuk menyelami Dia saya perlu kerendahan hati, yang mau menerima bahwa saya tidak mengerti. Perlu semangat seperti anak kecil, yang untuk menerima Dia, menyambut Dia.

Tuhan amat baik. Ia tidak menganggap banyak yang tidak mengerti sebagai kegagalan, tetapi sebagai anugerah cuma-cuma dari Bapa. Maka setiap hari kita merenungkan Dia, berusaha mengenal-Nya lebih dekat lagi, lewat situasi keseharian kita, serta waktu-waktu khusus untuk menjalin hubungan yang akrab, saat berdua saja dengan Dia.

Kata Yesus, “Menurut kamu, siapakah Aku ini ?”

Doa meliputi banyak segi. Bila dilihat doa Bapa Kami.. banyak hal yang dibicarakan dengan Tuhan..

Doa-doa juga banyak diungkapkan dalam Kitab Suci:

Dalam Perjanjian Lama, Kitab Mazmur, misalnya, diungkapkan doa umat Allah dalam berbagai situasi kehidupan.. dalam segala yang kita temui dalam peziarahan hidup kita, dari doa pujian, permohonan, maupun ratapan… baik secara pribadi maupun bersama-sama dalam rombongan umat-Nya.

Sebuah perikop dalam kitab Raja-raja,  menceritakan hasil doa Nabi Elia.

Nabi Elia dikejar-kejar mau dibunuh, lalu ia berdoa pada Tuhan. Suasana doa Elia digambarkan dalam 1 Raj 19:11-13.
Elia berdoa, dan buah doanya adalah: ia dimampukan untuk menjadi saksi yang berani di tengah umat Allah.

Dalam Perjanjian Baru diceritakan buah doa Yesus di Gunung Tabor.

Setelah berdoa di Gunung Tabor, Yesus siap memberi kesaksian di hadapan orang banyak, bahkan bila hal itu membawa-Nya kepada sengsara dan maut. Yesus kemudian masuk Yerusalem, disana penolakan menantinya, namun Ia taat teguh. Berapa lama Yesus berdoa? 40 hari tanpa terputus! Bukan waku yang sedikit.

Regula kita, terutama dalam bab V, mengungkapkan lebih jauh tentang hidup doa kita. Bahannya kaya sekali, antara lain bisa diungkapkan disini, bahwa dalam Regula Bab V – 10 dituliskan “..bila kita mengucapkan doa ofisi, kita berbicara dengan Allah.. “

Beberapa tips praktis:

Walau sebagai seorang Sekulir kita tidak bisa mendengar lonceng angelus dibunyikan seperti di gereja, kita bisa melihat tanda-tanda sekeliling, misalnya fajar menyingsing dan matahari terbenam sebagai mengingat doa  pagi dan sore, atau memasang alarm reminder waktunya meditasi pada jam weker atau telepon seluler. Hal lain bagi kita yang tinggal di bumi pertiwi ini adalah terdengarnya seruan saudara kita yang beragama lain untuk berdoa pada jam-jam tertentu..

Sebuah pengalaman pribadi saat mengikuti pelatihan selama 2 minggu di luar kota: “..saya membawa buku ofisi, namun awalnya ada perasaan sedikit sungkan untuk membukanya di depan teman lain pada jam istirahat. Tetapi kemudian masalahnya, di penginapan pun, kami sekamar berdua. Saya pikir, kalau dia mandi baru akan saya buka doa saya. Ternyata habis mandi dia berdoa menurut agama dan kepercayaannya. Jadi saya doa juga, tidak ada alasan tidak mendengar lonceng sampai keburu ngantuk malam hari… lha di depan saya ada orang berdoa?”

Yesus juga mengatakan, bahwa Dialah pokok anggur, dan kita cabangnya. Pertama-tama cabang harus menempel pada pokok anggur. Tanpa menempel pada pokok anggur cabang akan segera menjadi kering. Di tengah dunia yang amat sibuk ini hidup doa kita menjadikan kita selalu menempel pada-Nya.

(dari sharing dan bahan panduan Pertemuan Nasional Ursulin Sekulir 2011, yang bersumber dari Pertemuan Internasional).

Spiritualitas Ursulin Sekulir

Saudari-saudari terkasih,

Selamat jumpa dalam suasana sukacita masa Paskah. Ada yang bertanya: Apa yang menjadi ciri Ursulin Sekulir? Berikut ini “Spiritualitas Ursulin Sekulir”, disadur dari website Ursulin Sekulir Italia

Mempelai

Malalui iman dan baptisan, kita mengambil bagian dalam misteri Paskah Kristus bersama “umat Allah” yang baru, yaitu Gereja. Di dalam umat baru itu kita dipanggil menjadi mempelai sejati dan perawan dari “Putra Allah”, yaitu, menghayati relasi kasih mempelai dengan Allah dan dunia ciptaan Allah. Selain itu kita dipanggil untuk bersatu dalam melayani Kerajaan-Nya. Bersama-sama kita saling membantu mengerahkan tenaga agar setiap benih kebaikan bisa tumbuh. Hidup kita yang dibaktikan berpusat pada Yesus Kristus, yang telah memulihkan hubungan kita dengan Bapa dan menyatakan kasih yang tak terbatas bagi setiap orang. Menjadi mempelai Kristus membuka hati kita bagi nilai-nilai persahabatan, kerjasama, memberi bantuan nyata, kesediaan memberi diri kepada semua, berkomunikasi dengan orang yang paling miskin dalam kebebasan batin yang penuh.

Sekulir

Kita ikut mengusahakan datangnya Kerajaan Allah, dengan membawa daya pembaharuan Injil ke dalam lingkungan pekerjaan di mana Allah menempatkan kita. Kita berusaha mewujudkan rencana Allah di dalam sejarah dengan membedakan yang baik dari yang jahat yang ada di dalamnya. Bersama-sama kita saling membantu untuk memelihara alam ciptaan dengan penuh tanggung jawab, menumbuhkan benih kebaikan, keadilan dan solidaritas yang ada dalam pengalaman manusia. Kita berusaha menjadi pembawa damai dengan cara menjadi garam dan ragi yang membuat seluruh adonan naik.

Ibu

Angela ingin supaya kita tidak hanya menjadi mempelai dari yang Mahatinggi, tetapi juga ibu. Kita dipanggil untuk melahirkan anak-anak Allah dalam hidup ini, dan itu hanya mungkin sejauh kita mengembangkan relasi yang akrab dengan Allah dan dengan Bunda Angela. Menjadi ibu berarti menyambut, membuat tumbuh, mendampingi setiap bentuk kehidupan hingga mencapai pemenuhannya dengan menghormati saat dan irama masing-masing. Itu berarti menghargai perbedaan dan menciptakan kondisi di mana setiap hari bisa membawa kehidupan yang baru. Kita menghayati kegembiraan dan syukur orang yang tahu dirinya dikasihi sejak semula dan bahwa ia mampu membagikan kasih itu kepada saudara-saudarinya.

Bersatu bersama

Istilah “Compagnia” berasal dari “cum-panis”, artinya, saling memberi makan dari roti yang sama seperti dalam keluarga. Kompania merupakan keluarga yang sungguh-sungguh, karena setiap anggotanya melibatkan diri untuk mencari, membangun dan mempertahankan semangat persatuan dan kerukunan, tanda yang pasti bahwa kita adalah murid Tuhan. Keluargalah yang membina dan mendukung kita untuk menjadi orang yang manusiawi dan adikodrati, yang mengenal diri dan mampu mengadakan pembedaan. Tetapi di atas segalanya, sumber persatuan kita adalah Dia yang memanggil kita dan oleh-Nya kita bersama-sama “dipersatukan satu sama lain dengan ikatan kasih”.

Untuk Refleksi:
Ciri-ciri manakah yang sudah berakar dan nampak jelas dalam diriku dan kelompok kecilku? Mana yang masih perlu dikembangkan dan dimantapkan?

(diambil dari Lembaran Hidup Baru bulan Mei 2011)

Angela Merici, Perintis Institut Sekulir

Kardinal Giovanni Battista Re

Berikut ini beberapa gagasan dari khotbah Misa penutupan pada peringatan 475 Kompania S. Ursula di gereja S. Angela, Brescia, 28 November 2010.

Dalam perayaan Ekaristi ini kita mau mengenang saat penting 475 tahun yang lalu, ketika Angela Merici mendirikan Kompania Santa Ursula di tempat ini. Ia ditemani oleh sekelompok wanita muda, yang disemangati oleh teladan Angela, bertekad untuk menghayati hidup bakti menurut nasihat Injil, tetapi tetap tinggal di tengah masyarakat.

Sebuah ide yang asli dan sangat modern serta mengejutkan di zaman itu. Suatu cara pembaktian diri kepada Tuhan untuk para wanita, yang sementara menjalani hidup keseharian yang amat biasa, juga menjadi garam, terang dan ragi bagi masyarakat mereka.

Di zaman itu wanita hanya diberi dua pilihan cara hidup: menikah atau masuk biara, dilindungi dinding tertutup, mengenakan jubah biara, dan mengikuti peraturan serta kegiatan yang ditetapkan Ordo mereka.

Angela membuka pilihan ketiga yang memungkinkan awam membaktikan diri kepada Tuhan di luar biara. Mereka tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan di tempat masing-masing. Mereka tetap menjadi bagian dari keluarga dan masyarakat, dan tidak memakai pakaian khusus yang membedakannya dari wanita lainnya.

Dengan pandangannya yang luas, Angela memilih gaya hidup yang sarat dengan nilai-nilai rohani bagi kaum wanita yang mau menjalani hidup biasa di masyarakat. Ia mengerti bahwa kekudusan bukanlah anugerah khusus buat orang yang tinggal di dalam biara, tapi juga untuk semua orang beriman, semua awam, seluruh umat pilihan Allah.

Angela ingin para wanita kristiani bisa menjiwai kehidupan manusiawi dan sosial, dan membantunya menjadi lebih baik di mata Tuhan, tanpa memakai seragam atau terikat oleh peraturan hidup bersama. Kalau dilihat seperti itu, (dan jangan lupa, itu terjadi sejak 475 tahun yang lalu), Angela mempunyai peranan yang sangat penting. Dengan ilham ilahi ia mampu memahami kebutuhan masyarakat di mana ia tinggal. Cintanya kepada Tuhan memampukan dia memandang dunia dengan cara yang berbeda, dan karena itu juga ia mencintai apa saja yang ada di zamannya.

Tetapi lebih dari itu, hidup bakti bagi awam sebagai kemungkinan ketiga yang dimulai oleh Angela beberapa abad yang silam, baru diresmikan sebagai Tarekat hidup religius satu abad yang lalu oleh Paus Pius XII. Sebelumnya hanya dilihat sebagai perintis sejarah yang dibentuk melalui kecerdasan dan kebaikan hati Angela Merici.

Paus Paulus VI dalam kata sambutan untuk Kompania tanggal 27 Agustus 1966, berkata, “… kalian mempunyai ciri yang tidak bisa diklaim oleh Tarekat sekulir lainnya, yaitu: Kalian adalah Tarekat sekulir yang tertua, dan Konsitusi kalian baru diadopsi oleh Gereja berabad-abad kemudian.” Karena itu Angela boleh disebut pelopor dan perintis gerakan spiritual yang dalam kehidupan gereja terdapat dalam Tarekat sekulir.

Dalam waktu singkat ide-ide dan ajaran Angela Merici meluas ke seluruh Italia dan seluruh dunia. Banyak perkumpulan di dunia yang dibentuk dari karisma Merician ini. Ada yang sekulir, ada yang religius, tetapi mereka semua diilhami oleh satu karisma dari Santa Angela dan membawa berkat berlimpah di banyak tempat dan di berbagai bidang.

Ide-ide cemerlang Angela Merici bisa menjadi kenyataan karena dia seorang yang disiplin, pandai mendengarkan, lembut, baik hati dan sangat peka dalam memberi nasihat.

Tapi rahasia keberhasilannya adalah cintanya yang besar kepada Allah dan doanya yang tak terputus.

Sabda Tuhan bukan ide yang abstrak baginya, melainkan kenyataan. Dalam Tuhan dia menemukan kepenuhan….

Bahkan hari ini juga ini Angela Merici mengajari kita banyak hal. Amatlah penting bahwa di zaman ini kita membawa Tuhan kembali kepada dunia, menyertakan Dia dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Kita harus membantu orang-orang menemukan kembali jalan kepada Tuhan. Sekarang ini orang dihadapkan pada banyak masalah ekonomi, pendidikan, sosial, dan lingkungan. Kalau kita tidak menjadikan Tuhan pusat hidup kita, kita tidak mungkin menemukan jalan keluar yang tepat bagi mereka. Tanpa Tuhan kita cenderung melupakan nilai-nilai hidup dan kehilangan arah kalau dihadapkan pada keuntungan pribadi…. Tanpa Tuhan, hidup dan tingkah laku kita tidak ada artinya.

Santa Angela, yang seutuhnya menjadi milik Allah, akan membantu kita mene-mukan makna Allah dalam hidup kita.

Selamat Pesta Emas Sr. Emma!

Selamat Pesta Emas Sr. Emma!

27 Januari 2011 adalah hari yang sangat spesial bagi pembimbing kita, Sr. Emma G, OSU. Tepat 50 tahun yang lalu Sr. Emma mengucapkan kaul pertamanya di tempat ini juga, Supratman 1, Bandung. Keluarga, sahabat, anak-anak dan para Suster datang dari berbagai tempat: Jakarta, Jateng, Jatim bahkan ada yang dari Papua. Dari US hadir Meity, Lena, Engeline, dan Mia dari Jakarta, dan Eny serta Lydia dari Bandung.

Di tempat penerima tamu dibagian buku kenangan setebal 100 halaman berjudul: “EMMANUEL, Allah beserta kita, Mengalami kehadiran Allah dalam tiga zaman.” Teman-teman yang tidak hadir akan dikirimi buku itu juga. Ada penari-penari cilik ikut menyambut tamu.

Masuk kapel, nampak Alkitab besar ditahkhtakan di depan altar. Hiasan kapel indah sekali, tapi bunga-bunga yang dipakai ternyata sederhana: Ada krisan kuning, banyak bunga knikir (tembelek) kuning, pisang-pisangan dan terong susu. Juga Sr. Emma memakai bros bunga knikir di bajunya. Bunga itu mempunyai makna khusus baginya, sperti dapat kita baca di buku kenangannya bab 7.

Ekaristi dipimpin oleeh Pater Martin Harun OFM pakar Kitab Suci dari Jakarta, dengan dua konselebran Pastor Harimanto OSC dan Pastor Samong OSC. Tema Ekaristi adalah “Emmanuel, Allah beserta kita.” Semua nyanyian diambil dari Madah Bakti dengan gaya Sunda, Jawa, atau keroncong (lagu persembahan). Dari awal kami diajak menyembah Allah Raja segala Raja dengan lagu: “Raja Agung.”


Raja agung, meraja di bumi,
Penuh Darma, Tuhan Maha kasih.

Takhta-Nya abadi selama-lamanya…

Semua teks doa, mulai dari ungkapan tobat sampai dengan berkat meriah diilhami oleh Kata-kata Santa Angela,
diantaranya doa tobat:

“Ya Tuhan, terangilah kegelapan hati kami. Berilah kami rahmat untuk memilih kematian daripada menghina diriMu yang Agung.

Kuatkanlah idra dan perasaan kami, agar kami tidak menyimpang dan tersesat, atau membelakangi sinar wajahMu, penghiburan setiap hati yang berduka.

Sudilah mengampuni dosa kami yang teramat banyak ini, demi Darah Kristus yang ditumpahkan karena cintaMu kepada kami.”

Paduan suara dari mudika Wiyataguna (tunanetra), sangat mengharukan melihat dan mendengar mereka menyanyi. Begitu tulusnya mereka memuji Allah. Mata mereka memang tidak melihat, tetapi mata hati mereka sangat jernih. Bacaan dari 1Yoh 1:1-4 dibawakan oleh Ansel, pemuda tunanetra.

Sr. Yuli bermazmur
“Aku mengasihi Tuhan. Dia sumber kekuatan.
Hidupku ‘kan menjadi aman dalam lindungannya
“.
Eny teman kita dengan mengenakan pakaian daerah, suara lantang dan jelas, membawakan Kata Pengantar dan Doa Umat.

Bacaan Injil diambil dari Yoh 1:1-4.14.16 .

Dalam khotbahnya Pater Martin berkata bahwa sungguh tepatlah bila hari ini Sabda Tuhan ditahtakan di depan altar. Sebab Dialah pusat hidup kita. Terutama bagi Sr. Emma hidup sangat berpusat pada kitab suci lebih-lebih sejak ikut dalam proyek penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Indonesia Masa Kini. Tiga orang ibu, Ibu Maria Sigar, Ibu Amsyati, dan termasuk juga Ibu Emma dengan penuh semangat mengerjakan apa yang saat itu disebut Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari. Bukan menerjemahkan kata per kata, melainkan terjemahan dinamis menurut artinya, sehingga mudah ditangkap oleh kita di zaman ini dan bisa dialami bahwa Allah beserta kita dan hadir di tengah-tengah kita.

Sesudah homili, tiba saatnya Sr. Emma mengucapkan pembaharuan kaul ketaatan, keperawanan, dan kemiskinan dengan tangan ditumpangkan di atas Kitab Suci yang ditakhtakan sejak awal Ibadat Pagi. Sebelum dan sesudahnya, para Suster menyanyikan: “Di tengah umat Allah kupersembahkan nadarku… “

Saat mengajak Doa Umat, Imam mengingatkan bahwa Allah telah memberi rahmat kepada kita untuk menarik diri dari kegelapan dunia guna melayani Dia, Tuhan yang Maha Agung. Doa umat yang dibawakan oleh Eny antara lain mendoakan

kesuburan panggilan suci hidup bakti

sebagai Imam,

Ursulin sekulir dan biarawati.



Sr. Emma dan keluarga,
Pastur Harimanto yang merayakan ulang tahun Imamatnya yang ke-18,

juga doa untuk orang muda.

Persembahan diantar oleh Sr. Emma dan ibu Christine, adiknya, ke altar bersama penari-penari cilik dengan iringan musik kecapi suling: 5 putri membawa bunga tabur, 4 putra membawa umbul-umbul. Saat “Bapa kami” dinyanyikan, kami bergandengan tangan mendoakannya. Dalam komuni kudus kita bersatu sebagai milikNya, dan seiring dengan tema renungan kita tahun ini “Gesu Christo Unico Tesoro”, Yesus Kristus satu-satunya harta kita, dinyanyikan:

Kutahu Tuhanku, Engkau milikku, Engkau pilihanku, bahagia hatiku.

Pengasih, penyayang, Juruslamatku.
Yesus, Kau kucinta, kini tekadku.

Kutahu, Tuhanku, Engkau kawanku,
Engkau sahabatku, gembira hatiku.


Kutahu, Tuhanku, Engkau guruku,
Akulah muridMu, ‘kan patuh selalu.

Misa ditutup dengan lagu meriah yang dinyanyikan dengan sepenuh hati oleh semua Ursulin: “Mulia, Angela Bunda.” Seusai Misa ada ucapan terima kasih dilanjutkan dengan sebuah drama kecil yang seru. Sr. Emma sendiri sebagai aktrisnya membawa koper, mencari becak. Ibu Yulia dari Pandu sebagai MC membantu panggilkan becak. Karena becak tidak segera datang, umat spontan bernyanyi: “Saya panggilkan becak, kereta tak berkuda Becak, becak coba bawa saya”. Datanglah becak betul-betulan (agak kecil) dari pintu samping dikendarai oleh Pastor Samong. Sr. Emma naik, lalu diadakan percakapan ini (seperti bab 6 dari buku kenangan)

Mang Becak: Neng, kalau seperti Neng ini tidak kawin ya?
Sr. Emma: Betul, Pak, kami tidak kawin.
Mang Becak: Seumur hidup?
Sr. Emma: Iya… seumur hidup
Mang Becak: Mana tahaaaaaaaan?

:D :D :D

Sr. Emma: Sudah tahan 50 tahun, nih Pak
Mang Becak: Apa rahasianya???
Sr. Emma: Itu tuh… yang di atas. Dia setia banget! Terus itu Suster Ursulin. Saya betah banget tinggal sama mereka.

Lalu becaknya maju sambil umat spontan bernyanyi “Saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki melihat dengan asyik ke kanan dan kekiri, lihat becak kulari bagai tanpa berhenti… Becak-becak jalan hati-hati.”

Saat makan bersama di ruang makan ada hiburan nyanyian oleh Ibu Ince dari Paroki Pandu dan Ibu Merci pemain keyboard. Ada juga tarian bersama, yang dimotori oleh para Suster. Beberapa ibu dan bapak yang nampaknya malu-malu, setelah mendapat kalungan selendang ternyata jago mendari dengan lincah!

Saudari dan mitra terkasih, walau tidak bisa menggantikan kehadiran anda di acara itu, saya berupaya menceritakannya sedikit lebih lengkap daripada jawaban atas sms “Gimana syukurannya Sr. Emma?” Kami merasa ini pesta kebersamaan. Semua yang hadir nampak happy sekali. Saya yakin Santa Angela hadir bersama kami dan ikut senyum gembira. Semua berjalan sesuai dengan yang dimohonkan oleh Sr. Emma: “sederhana, menyentuh, aman, dan terkendali.”

Terima kasih kepada anda semua yang mendoakan dari jauh. Kami percaya anda menyertai dalam doa Perayaan St. Angela. Jangan lupa, pernas kita, 5-9 Juli 2011, tinggal lima bulan lagi lho, mari persiapkan, jangan lewatkan.

Selamat Pesta, St. Angela! Dikau pasti amat gembira.

Mulia, Angela Bunda; gembira kami anak-anakmu.

Hidupmu Bunda Ang’la di buana semerbak,
setia pada Tuhan tak s’dikit pun menolak.
Kaum muda kaucinta, kauduga hatinya.
Dahaga ‘kan bahagia kau mengerti lemahnya.
Mulia, Angela Bunda; gembira kami anak-anakmu.

Jiwamu nan jernih mengejar yang benar.
Imanmu cah’ya kami di jalan surgawi.
Bila derita datang, ketakutan menyerang.
Jagakan pengharapan agar kukuh bertahan.
Mulia, Angela Bunda; gembira kami anak-anakmu.

Kau b’ri nyala pertama yang membakar dunia.
Cinta sesama bagai s’magat jiwa.
Ingin kami merasul seturut t’adanmu,
dalam jiwa nampak Kristus, kami abdi bersama.
Mulia, Angela Bunda; gembira kami anak-anakmu.